JAKARTA –Â Membangun budaya hidup sehat harus dimulai sejak sekolah, saat pola pikir dan karakter anak terbentuk.
Berangkat dari semangat itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen menandatangani Nota Kesepahaman MoU dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan BPOM.
Hal itu memperluas edukasi keamanan pangan di sekolah. Program Sadar Pangan Aman SAPA, 1.000 Kader Bahasa Daerah, hingga dukungan MBG jadi fokusnya.
Kolaborasi ini untuk memperluas edukasi keamanan pangan di sekolah melalui Program Sadar Pangan Aman SAPA Sekolah Berbasis Budaya, Gerakan 1.000 Kader, Edukasi Pangan Aman Menggunakan Bahasa Daerah dan Tiga pedoman pelaksanaan keamanan pangan untuk dukung Program Makan Bergizi Gratis MBG
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan persoalan pangan bukan hanya soal konsumsi, tapi pembentukan karakter.
“Problem kita, anak-anak sering lebih banyak memilih food for fun tanpa sadar kandungan gizinya. Karena itu, budaya hidup sehat dan sadar pangan menjadi penting,” ujarnya.
Sekolah punya peran strategis membiasakan anak memahami kualitas makanan. Mulai baca komposisi bahan, cek tanggal kedaluwarsa, hingga kenali kandungan gizi.
“Kerja sama ini bukan seremonial, tapi gerakan bersama. Kami ingin anak-anak terbiasa lihat ingredients dan tanggal kedaluwarsa saat beli makanan. Ini membangun sikap kritis. Mudah-mudahan MoU ini jadi awal budaya hidup sehat Generasi Emas 2045,” tutur Abdul Mu’ti.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyebut sinergi lintas sektor kuncinya. Dari 260 ribu sekolah di Indonesia, baru 60 ribu yang terjangkau BPOM langsung.
“Pembudayaan keamanan pangan di sekolah sejak dini jadi solusi. Pendidikan budaya makan sehat wajib diajarkan sejak awal,” katanya.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menambahkan pendekatan budaya lewat bahasa daerah, seni pertunjukan, dan cerita rakyat akan membuat pesan keamanan pangan lebih mudah diterima. (*/red)























