Aksi Bersih-bersih Gubernur Yulius di Fesbudaton: “Ini Aset Kita, Harus Kita Rawat”

154
Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus mengangkat tumpukan ilalang bersama masyarakat saat aksi bersih-bersih di kawasan Fesbudaton Minahasa. (ist)

MINAHASA – Di tengah agenda peninjauan aset milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Gubernur Sulut Yulius Selvanus, S.E. justru secara spontan turun langsung mengangkat sampah, membersihkan ilalang, serta bergotong royong bersama aparatur dan masyarakat di kawasan Festival Budaya Tonsea (Fesbudaton), Kelurahan Paleloan, Kabupaten Minahasa, Jumat (24/7/2026).

Aksi spontan tersebut menjadi lebih dari sekadar kegiatan kerja bakti. Di baliknya tersirat pesan kuat tentang gaya kepemimpinan yang menempatkan keteladanan sebagai titik awal perubahan.

Awalnya, Gubernur Yulius dijadwalkan hanya melakukan peninjauan terhadap kawasan Fesbudaton beserta lahan aset Pemprov Sulut seluas sekitar tiga hektare.

Namun, setibanya di lokasi, ia mendapati Pemerintah Kabupaten Minahasa sedang melaksanakan kerja bakti massal yang dipimpin Ketua TP-PKK Kabupaten Minahasa Ny. Martina Dondokambey-Lengkong bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa, Dr. Lynda Watania, M.M.

Tanpa ragu, Gubernur langsung bergabung bersama para pejabat, ASN, dan peserta kerja bakti.

Mengenakan pakaian lapangan, ia ikut membersihkan semak belukar, mengangkut sampah, hingga memastikan lingkungan di sekitar kawasan menjadi lebih tertata.

Kehadiran orang nomor satu di Sulawesi Utara yang bekerja tanpa menjaga jarak dengan masyarakat sontak menarik perhatian warga.

Banyak yang mengabadikan momen tersebut sebagai gambaran kepemimpinan yang tidak hanya memberi instruksi dari balik meja, tetapi hadir langsung di lapangan.

Di sela kegiatan, Yulius mengaku prihatin melihat kondisi kawasan Fesbudaton yang selama bertahun-tahun terkesan terbengkalai.

Menurutnya, aset pemerintah tidak boleh dibiarkan kehilangan fungsi, apalagi memiliki potensi besar untuk mendorong sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.

“Kalau kerja, kerja yang betul. Ini aset kita, ini milik kita, harus kita rawat dengan baik,” tegas Gubernur.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa pengelolaan aset daerah harus dilakukan secara serius, bukan sekadar menjaga keberadaan fisiknya, tetapi menghidupkannya agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Lebih jauh, Gubernur mengungkapkan komitmennya untuk mengembalikan kejayaan kawasan Fesbudaton sebagai destinasi unggulan di Sulawesi Utara.

Menurutnya, lokasi yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan bentang alam tersebut menyimpan potensi besar apabila ditata secara profesional.

“Saya akan jadikan tempat ini lokasi wisata yang tak kalah menarik dengan Bukit Kasih, Sumaru Endo, dan destinasi wisata lainnya,” ujarnya penuh optimisme.

Komitmen itu menunjukkan bahwa peninjauan yang dilakukan bukan sekadar inspeksi rutin, melainkan bagian dari langkah awal revitalisasi aset daerah yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

Revitalisasi kawasan Fesbudaton juga dinilai sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara untuk memperkuat sektor pariwisata berbasis budaya dan alam sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.

Jika dikembangkan secara terpadu, kawasan tersebut berpotensi menjadi ruang publik, pusat kegiatan budaya, sekaligus destinasi wisata baru yang mampu menarik kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Aksi sederhana Gubernur Yulius yang memungut sampah dan membersihkan ilalang pada akhirnya menjadi simbol bahwa membangun daerah tidak selalu dimulai dari proyek besar.

Perubahan justru lahir dari keberanian seorang pemimpin memberi contoh, mengajak semua pihak menjaga aset bersama, dan memastikan setiap jengkal kekayaan daerah kembali memberi manfaat bagi generasi mendatang. (*/ben)