Stella Porayow: Jangan Pernah Menyerah Melawan Penyakit Leukemia

411
Stella Porayow. (ist)

MANADO – Pernyataan bahwa sebagian besar penderita leukemia meninggal dunia adalah tidak sepenuhnya benar.

Meskipun leukemia adalah penyakit serius, kemajuan dalam pengobatan telah meningkatkan tingkat kelangsungan hidup secara signifikan, terutama untuk beberapa jenis leukemia dan pada pasien yang lebih muda.

Seperti yang pernah dialami Stella Porayow, pada usia 10 tahun 2006 di diagnosa terkena kanker darah (leukemia).

Awalnya ia hanya sakit dirumah, namun karena waktu lama tidak sembuh maka dirujuk ke prof Mantik untuk menjalani pemeriksaan.

“Setelah diperiksa ditempat praktek dokter Mantik saya diarahkan ke Estella RSUP kandou. Waktu itu kami belum tahu apa- apa, hanya didampingi papa karena mama saat itu baru saja melahirkan,” ucapnya.

Waktu itu, ia hanya ikut arahan untuk diperiksa. Setelah hasil keluar di diagnosa Leukemia.

Pada saat itu ia masih belum terlalu paham karena masih kelas 6 SD. Internet belum canggih seperti sekarang untuk mencari tahu informasi apa itu leukimia, tahun 2006 masih pakai HP Nokia kecil.

“Melihat wajah mama papa ketika dipanggil dokter untuk memberitahukan bahwa saya Leukimia, saya melihat ada yang aneh. Mereka bilang saya sakit dan harus dirawat lumayan lama di rumah sakit untuk pengobatan,” kenangnya.

Saat itu, ia menangis dan merasa tidak terima karena baru naik kelas 6 SD, di mana kelas 6 adalah kelas persiapan untuk bisa lulus.

Sempat berontak, Stella tak terima karena melihat yang lain rambutnya botak, takut ia juga akan botak dan tidak bisa sekolah.

“Walau saya tidak sampai botak tapi setiap pagi rambut rontok dibantal, saya harus potong rambut panjang menjadi pendek,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, lama kelamaan ia bisa menerima keadaan harus sembuh dan sekolah itu tujuan utama, karena takut dan malu kalau teman yang lain lulus, ia justru tidak.

Selama pengobatan, hal yang selalu jadi perhatian dan tidak terlupakan bahwa selama 6 bulan di pusat kanker Estella RSUP Kandou dengan rawat inap sering ditinggalkan sendiri atau dititipkan ke perawat.

“Dalam artian bukan tidak disayang tetapi papa saya harus pulang ke bitung untuk bekerja, mama saya merawat adik saya yang bayi,” jelasnya.

“Nanti kalau sudah jadwal kemoterapi papa saya datang untuk mendamping,” ujarnya lagi.

Iapun sangat bersyukur pada saat itu ada orang tua pasien lain, perawat – perawat dan dokter yang selalu support dan selalu mendampingi terutama Prof mantik, dokter stefanus dan Ses Konda sebagai saksi perjuangan hidupnya sampai sekarang.

“Puji Tuhan, setelah 6 bulan rawat inap saya mencoba masuk sekolah lagi walau hanya ikut semampu saya,” ujarnya.

Stella memang bersemangat untuk sembuh dan yakin bisa, sehingga mengikuti kemo dengan jadwal tepat dan selalu mengikuti arahan dokter dan perawat

Setelah dinyatakan selesai kemo dia merasa hal yang luar biasa.

“Saya sangat bersyukur menjadi pilihan Tuhan yang bisa Tuhan titipkan pada orang tua yang luar biasa sehingga boleh mendampingi saya melewati perjalanan kemoterapi,” ujar wanita kelahiran 29 tahun lalu.

Dia juga berpesan buat semua diluar sana yang berjuang melawan leukemia jangan pernah menyerah, jangan putus asa Tuhan memilih kita menjalani ini semua. Karena Tuhan tau kita kuat dan mampu.

“Buat adik – adik pasien saya berpesan jalani, berjuang, percaya kalian pasti bisa. Dengarlah orang tua dan patuhi kata dokter dan perawat, terutama tetap berdoa. Hidup tidak selamanya indah tetapi ketika menjadi pilihan Tuhan dan kita mampu menjalaninya maka semua yang akan terjadi akan lebih dari Indah,” pesannya.

“Percayalah yang terjadi sekarang adalah Jalan yang menuju anugerah besar yang Tuhan siapkan,” pungkasnya.

Saat ini Stella Porayow yang lulus sarjana pendidikan tahun 2018, bekerja sebagai PNS di Kota Manado.

Disamping itu, ia juga masih terlibat dengan Estella dan dipercayakan menjadi Ketua Komunitas Survivor.(ben)