Obat Kosong di RSDLK Tahuna, 48 Nakes Turun Tangan Galang Dana

135
Ist

SANGIHE – Krisis obat dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) yang melanda Rumah Sakit Daerah Liun Kendage (RSDLK) Tahuna belakangan ini memukul keras layanan kesehatan dan merugikan masyarakat.

Kondisi genting itu memicu respon cepat dari 48 tenaga kesehatan (nakes) yang mengambil langkah tak biasa: patungan mengumpulkan dana untuk membeli obat.

Gerakan spontan para nakes ini langsung viral di media sosial dan menuai perhatian publik.

Direktur RSDLK Tahuna, dr Aprikonus Loris, tak menutup-nutupi kondisi krisis yang terjadi. Ia membenarkan ketiadaan sejumlah obat dan BMHP, sekaligus mengapresiasi gerakan solidaritas para nakes.

“Itu bentuk respon cepat dan kepedulian sosial dari teman-teman sejawat — dokter spesialis, dokter umum, perawat, hingga administrasi. Dana itu digunakan untuk membeli beberapa item obat yang sedang kosong,” kata dr Loris kepada wartawan, Kamis (04/12/2025).

Ia memastikan bahwa proses pengadaan obat sudah berjalan dan diperkirakan tiba pada pekan depan.

Menurutnya, krisis ini terjadi karena keterbatasan anggaran. RSDLK Tahuna tidak dapat melakukan pengadaan langsung karena pendapatannya hampir sepenuhnya bergantung pada layanan BPJS.

“Sebanyak 98 persen pendapatan rumah sakit berasal dari jasa layanan BPJS. Namun pembayaran klaim membutuhkan waktu sekitar 30 hari. Contohnya, tagihan bulan September baru cair di akhir Oktober atau awal November,” jelasnya.

“Itu pun tidak selalu cair 100 persen. Jika ada hal yang perlu klarifikasi, maka pembayaran akan ditunda,” tambahnya.

dr Loris menegaskan bahwa aksi open donasi dari para nakes murni gerakan sukarela.

“Ini murni spontanitas tanpa paksaan. Dana yang terkumpul akan dibelanjakan obat, lalu diserahkan ke rumah sakit dalam bentuk barang,” pungkasnya. (IvAn)