RSUP Kandou Punya Teknologi Terbaru, Tangani Gangguan Irama Jantung

17
Direktur Starry Rampengan bersama tim InaHRS.. (foto ben)

MANADO – RSUP Kandou Manado sukses melaksanakan tindakan First Pulsed Field Ablation (PFA) Cases, perdana di Sulawesi Utara, yang dilaksanakan di Gedung CVBC RSUP Kandou, Kamis (30/4/2026).

‎Keberhasilan ini menandai babak baru penanganan jantung yang lebih efisien dan modern di Sulawesi Utara.

‎Berkolaborasi dengan Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) mengukuhkan RSUP Kandou sebagai pionir layanan kesehatan di Sulawesi Utara.

‎‎Metode PFA merupakan teknologi terbaru dalam dunia medis untuk menangani aritmia atau gangguan irama jantung.

‎“Minggu ini kami melakukan tindakan ablasi dengan metode tercanggih. Alatnya sudah diadakan, namanya Pulsed Field Ablation. Ini adalah kali pertama metode tersebut diterapkan di Sulawesi Utara,” ujar Prof Starry Rampengan dalam konferensi persnya.

‎Ketua Panitia dari InaHRS, dr Erika Maharani Sp.JP(K) menjelaskan bahwa masyarakat sering kali menyepelekan gejala jantung berdebar.

‎Padahal, gangguan irama jantung, baik terlalu lambat maupun terlalu cepat, memerlukan penanganan serius.

‎‎Selama ini, jumlah spesialis aritmia di Indonesia memang masih sangat terbatas.

‎Di seluruh Pulau Sulawesi saja, tercatat hanya ada sekitar lima spesialis.

‎Meski demikian, Sulut harus berbangga karena memiliki satu spesialis di antaranya, dr Benny Setiadi Sp.JP(K), bahkan dalam waktu dekat bisa bertambah satu lagi spesialis.

‎Di sisi lain, kehadiran teknologi PFA di RSUP Kandou membawa harapan baru bagi warga Sulawesi Utara dan sekitarnya.

‎“Metode terbaru ini jauh lebih efisien dan cepat. Tingkat keberhasilannya lebih tinggi dan tingkat keamanannya bagi pasien sangat terjaga,” jelas dr Erika.

‎‎Dalam tindakan perdana ini, dr Benny Setiadi Sp.JP(K), menjadi satu-satunya spesialis aritmia di Sulawesi Utara yang melakukan tindakan Pulsed Field Ablation.

‎Dengan dukungan penuh dari para ahli di InaHRS bersama timnya, tindakan kali ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat layanan aritmia di Sulawesi Utara.

‎‎“Saya berterima kasih karena mendapat dukungan dari RSUP Kandou, khususnya Dirut Starry, dan juga dari perhimpunan InaHRS,” tutur dr Benny.

‎Menariknya, tindakan medis ini dilakukan kepada empat pasien dengan rentang usia yang cukup lebar, mulai dari remaja berusia 13 tahun hingga dewasa berusia 50 tahun. (ben)