Bullying Menghambat Kesuksesan

109

Oleh: dr. Theresia M.D. Kaunang, Sp.KJ
Spesialis Kedokteran Jiwa atau Psikiatri, sub spesialis anak dan remaja

MANADO – Kasus bullying semakin marak dan sangat merugikan korban, bahkan terdapat korban jiwa. Korban jiwa baik karena terbunuh maupun bunuh diri, disebabkan karena beban mental yang berat akibat bullying.

Bullying pada anak dan remaja merupakan perilaku agresif, disengaja dan berulang, baik secara fisik, verbal sosial ataupun cyber bullying dengan tujuan untuk menindas pihak yang dianggap lemah.

Dampak buruk sangat serius sebagai akibat dari bullying/perundungan berupa gangguan kesehatan fisik dan mental (cemas, PTSD, stress akut, psikotik, gangguan depresi hingga bunuh diri), rendah diri/minder, penurunan prestasi, kualitas hidup menurun.

Tatalaksana memerlukan kerjasama pihak sekolah, keluarga, masyarakat, petugas kesehatan dan lingkungan sekitar.

Jenis-jenis bullying dapat berupa secara fisik (mendorong, memukul, menendang, menampar, merusak barang, merusak tubuh korban), secara verbal (mengejek, mengancam, memanggil dengan julukan yang merendahkan, body shaming, memanggil dengan menyebutkan nama orangtua secara tidak sopan, memanggil dengan menyebutkan bagian tubuh yang dianggap aib (misalnya tompel/ tahi lalat) atau berupa kondisi yang dianggap kecacatan, secara sosial (mengucilkan, menyebarkan gosip, memfitnah atau mempermalukan di depan umum).

Secara seksual (komentar, gurauan, sentuhan fisik yang mengarah pada pelecehan seksual) dan secara cyberbullying (bullying melalui media sosial, pesan singkat, atau game online, misalnya menyebarkan foto pribadi atau memfitnah).

Kasus bullying banyak dan beragam, dapat dilihat di media misalnya 3 orang anak melakukan bullying dengan memasukkan korban ke dalam mesin cuci, akibat bullying mahasiswa melakukan bunuh diri, akibat bullying seorang mahasiswa program dokter spesialis melakukan bunuh diri dan masih banyak kasus bullying yang terjadi bagaikan fenomena gunung es.

Demikian juga kasus bullying di Sulawesi Utara, khususnya Manado pada penelitian yang dilakukan dengan periode waktu bulan Oktober 2025 – Januari 2026 didapatkan prevalensi bullying pada anak usia Sekolah Dasar sebesar 53,78%, dan prevalensi bullying pada usia Sekolah Menengah Pertama sebesar 39,8 %.

Hal ini menandakan bahwa kondisi anak dan remaja tidak baik-baik saja dan terancam oleh lingkungan pertemanannya sendiri, yang seharusnya memberikan dukungan kepadanya sebagai bagian dari peer group.

Sulit mencegah pelaku bullying untuk tidak melakukannya. Banyak faktor yang menjadi penyebab pelaku melakukan bullying yaitu faktor pola asuh yang tidak optimal dari orangtua atau orang dewasa lainnya yang hidup bersama sang pelaku, faktor dari anak yang menderita gangguan mental misalnya gangguan perilaku, gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif atau masalah mental lainnya.

Etiologi/penyebab bullying dari pihak pelaku melibatkan interaksi berbagai aspek yang kompleks yaitu faktor psikologis, biologi dan sosial.

Pelaku seringkali memiliki harga diri rendah yang ditutupi dengan perilaku dominan, kurang empati, trauma masa lalu (pernah menjadi korban bullying), kurangnya kontrol diri, serta pengaruh lingkungan rumah atau teman sebaya yang menormalisasikan kekerasan.

Pelaku yang low self esteem akan menutupi rasa tidak aman atau kekurangan diri, ia menindas orang lain agar nampak hebat, kuat dan terkenal.

Kurangnya empati dari pelaku seringkali tidak memahami perasaan atau penderitaan korban. Kontrol diri yang kurang akan berakibat impulsif, mudah marah dan bertindak tanpa mempertimbangkan konsekuensi.

Jika pelaku mengalami gangguan perilaku, bukan tidak mungkin pada masa dewasa akan bermuara pada psikopat (kepribadian antisosial).

Faktor lingkungan atau keluarga dalam, hal ini pola asuh berperan penting dalam menciptakan pelaku bullying.

Pelaku yang hidup dalam lingkungan yang penuh konflik dan mengalami kekerasan di rumah dapat memicu menjadi pelaku bullying.

Selain itu, pelaku dengan kondisi pola asuh pengabaian, berakibat anak mencari perhatian dengan cara yang keliru. Pengalaman masa lalu sebagai korban bullying, dapat menjadikan seseorang menjadi pelaku.

Tontonan kekerasan dapat menjadi penyebab seseorang melakukan bullying. Media sosial yang semakin tak terkendali, dapat menjadi salah satu pencetus bullying.

Ini merupakan dampak negatif media sosial, yaitu pelaku akan mengambil contoh buruk untuk melakukan bullying/ mengadopsi dengan cara-cara yang sama dalam media sosial.

Dalam lingkungan tertentu, menganggap bullying sebagai hal yang wajar sehingga terjadi normalisasi terhadap kekerasan (bullying).

Hal ini menjadi pendukung bagi pelaku untuk melakukan bullying. Bullying seringkali merupakan mekanisme pertahanan pelaku yang memiliki masalah emosional atau sosial.

Menjadi perhatian bagi semua pihak bahwa bullying merupakan alarm bagi kedaruratan kondisi mental seseorang, baik dari pihak korban maupun pihak pelaku, sehingga memerlukan kepedulian yang besar dari berbagai pihak yang merupakan pemangku kepentingan (keluarga, masyarakat, pendidik, petugas kesehatan, pemerintah) untuk terlibat dalam tatalaksana bullying dan bukan hanya pihak-pihak tertentu secara terkotak-kotak, agar tidak ada yang menyesal di kemudian hari, karena memakan korban.

Jangan diam saat melihat bullying, berdiri dan berbicaralah untuk menentangnya. Jadikanlah pelajaran yang sangat berharga bagi semua untuk kasus-kasus bullying yang pernah terjadi dan memakan korban jiwa ataupun menjadi gangguan jiwa akibat menjadi korban bullying.

Bersama kita bisa mengakhiri bullying. Jadilah pahlawan, bukan penonton pasif. Generasi penerus harus menghentikan bullying, mulai dari diri sendiri.

Satu tindakan kecil bisa berakibat besar, mulailah dengan kebaikan. Kebaikan itu menular, sebarkan.

Generasi penerus adalah aset suatu bangsa, apakah korban maupun pelaku, keduanya merupakan generasi penerus.

Melakukan pembinaan dan memberantas bullying terhadap generasi penerus merupakan cara kita berinvestasi.

Bullying bukan merupakan solusi, akan tetapi merupakan tanda kelemahan dan dapat merusak banyak orang.

Jangan biarkan bullying merusak masa depan generasi penerus. Stop bullying. Be a Buddy. Not a Bully. (*)