Mario Jesli Sundah, Penyintas Hemofilia Pantang Menyerah dengan Keadaan

117
Mario Jesli Sundah. (dok)

MANADO – Mungkin bagi Mario Jesli Sundah, awal pertama masuk ruangan Estella 12 September 2007 tak menyangka akan menderita penyakit ‎Hemofilia.

‎Hemofilia adalah kelainan darah genetik langka di mana darah sulit membeku karena kekurangan faktor pembekuan (protein).

Akibatnya, penderita mengalami perdarahan lebih lama setelah cedera, mudah memar, atau perdarahan spontan pada sendi.

Penyakit ini umumnya diturunkan dari orang tua dan lebih sering menyerang pria.

‎‎Mario menceritakan awal ia terkena Hemofilia pada tahun 2008. Ia mengalami kelumpuhan karena obat waktu itu masih sangat sulit di dapatkan.

‎”Pada saat itu saya di diagnosa oleh Profesor Max Mantik saat belum berumur satu tahun,” ucap Mario.

“‎Kata dokter, hemofilia tidak mungkin sembuh. Namun upaya mencegah agar tidak terjadi kelumpuhan sudah sangat baik meski pada belum ketahuan kalau penyintas hemofilia,” kenang dia.

Dijelaskan, ‎‎ciri – ciri terkena penyakit ini sudah terlihat waktu belajar merangkak, sering terbentur badan jadi memar kebiruan.

‎”Saat kejadian, trauma besar kepala terbentur dan benjol di kepala sebelah kiri. Kemudian terbentur lagi sehingga harus di operasi,” ujarnya kepada arenapost.id, Kamis, 12 Februari 2026.

‎‎Lewat penyakit yang ia alami ini, tentu memberikan motivasi untuk teman – teman atau adik- adik penyintas hemofilia juga.

‎Mario mengimbau tidak menyerah dengan keadaan, harus sering latihan fisik ringan supaya otot sendih tidak kaku.

“Kelak kemudian hari minimal bisa menolong diri sendiri tidak bergantung dengan orang lain kalau mau beraktivitas sehari – hari,” terang dia.

‎Lewat perawatan intensif, Mario akhirnya dinyatakan sembuh dan bisa mengikuti kursus komputer di Widyaloka Manado.

‎‎Saat ini Mario Sundah menjalankan aktivitas sebagai pembuat kue (UMKM) di pasar Airmadidi, Minahasa Utara. (ben)