Peristiwa 14 Februari 1946 Simbol Ketangguhan Sulut Menjaga Api Kemerdekaan

224
Yulius Selvanus. (ist)

MANADO – Untuk pertama kalinya, peringatan Peristiwa 14 Februari 1946 digelar dalam format upacara resmi dan terpusat tingkat provinsi.

‎Hal ini belum pernah dilakukan pada masa kepemimpinan sebelumnya.

‎Pada masa kepemimpinan Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus sejarah ditarik keluar dari ruang nostalgia. Ia ditempatkan di tengah lapangan, di bawah tiang bendera, di hadapan negara.

‎Bendera Merah Putih naik perlahan. Hadir lengkap unsur Forkopimda, ASN, TNI-Polri, LSM, keluarga pejuang Merah Putih 14 Februari 1946, mahasiswa, pelajar, hingga elemen masyarakat.

Formasi itu bukan sekadar kerumunan. Ia adalah simbol konsolidasi.

‎Selama bertahun-tahun, 14 Februari diperingati. Namun gaungnya lebih banyak berada di ruang-ruang terbatas. Tahun 2026 menjadi garis patah.

Pemerintah provinsi mengangkatnya ke level formal memberi bobot, memberi legitimasi, memberi tempat yang tak lagi marginal.

‎‎Dalam amanatnya, gubernur mengajak publik melihat peristiwa 1946 bukan hanya sebagai fragmen sejarah, melainkan simbol ketangguhan orang Sulawesi Utara menjaga api kemerdekaan.

‎Ia menyebut nama-nama yang dulu bergerak dalam sunyi namun berdampak besar. Nama itu seperti Charles Choesj Taulu, Servius Dumais Wuisan, Mambi Runtukahu, dan Bernard Wilhelm Lapian.

Mereka adalah para prajurit yang memilih merobek biru dari bendera penjajah dan mengibarkan Sang Saka Merah Putih sebagai tanda keberpihakan.

‎“Peristiwa itu merupakan proklamasi kedua bagi masyarakat Sulawesi Utara. Ini menjadi fondasi tema besar kita tahun ini, Bhakti Kami Demi Pertiwi, dari Sulut untuk Nusantara,” ujar Yulius.

‎Adapun Drama kolosal menjadi jantung peringatan tahun ini. Begitu fragmen dimulai, lapangan seolah berubah menjadi Manado 1946.

‎Kisahnya ditarik mundur ke masa ketika Proklamasi 17 Agustus 1945 belum sepenuhnya terasa di daerah. Struktur militer kolonial masih berdiri.

Pasukan KNIL, yang sebagian besar prajuritnya orang Minahasa masih berada di bawah komando Belanda. Sekutu datang membawa NICA, membuka kembali jalan bagi kolonialisme.

‎Di titik itulah dilema lahir. Tunduk pada struktur lama atau berpihak pada Republik yang baru diproklamasikan.

‎Adegan-adegan teatrikal menggambarkan kegelisahan di barak, bisik-bisik perencanaan rahasia, hingga gerakan terkoordinasi yang meletup dini hari 14 Februari 1946

‎‎Langkah ini bukan dekorasi seremonial. Ia menyiratkan reposisi. Sejarah lokal ditegaskan sebagai identitas daerah.

Dalam situasi fiskal yang mengetat dan tuntutan efisiensi yang menekan, pemerintah tetap memilih menjadikan simbol perjuangan sebagai fondasi moral birokrasi.

‎‎14 Februari 2026 kini berdiri sebagai penanda. Bukan hanya tanggal di kalender daerah, melainkan awal dari tradisi baru: sejarah yang dinaikkan kelasnya.

Bukan karena kebiasaan lama, tetapi karena keputusan untuk memecahnya. (*/ben)