Brian Antibe Pasien Rabdo Myo Sarkoma  (Tumor Mata) Sembuh Total, Beri Harapan dan Inspirasi

193
Brian Antibe. (ist)

MANADO – Cerita ini dimulai ketika Brian Antibe berusia 9 tahun dan mengalami benturan di pelipis mata saat bermain dengan teman-teman di sekolah.

Setelah benturan itu, pelipisnya terluka dan dijahit di puskesmas terdekat.

‎Brian Antibe, didiagnosis mengidap Rabdo myo Sarkoma (tumor mata) oleh Prof. Max Mantik pada tahun 2009.

‎Rhabdomyosarcoma adalah kanker langka pada otot rangka, yakni otot yang berperan dalam pergerakan tubuh. Kondisi ini lebih sering menyerang anak-anak.

Rhabdomyosarcoma dapat tumbuh di berbagai bagian tubuh yang memiliki otot rangka, termasuk leher, dada, perut, sekitar mata, dan tungkai.

‎Rhabdomyosarcoma berawal dari sel rhabdomyoblast, yaitu sel yang terbentuk di awal masa kehamilan dan kemudian berkembang menjadi otot rangka.

Pada rhabdomyosarcoma, sel tersebut tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali, serta merusak jaringan sehat di sekitarnya.

‎‎”Sebulan setelah benturan, sebuah benjolan kecil tumbuh di mata saya. Saya dan orang tua saya awalnya mengira itu hanya efek dari benturan, tapi benjolan itu terus membesar dan bola mata saya mulai terdorong keluar. Kami kemudian membawa saya ke Rumah Sakit Liun Kendage di Tahuna, Kepulauan Sangihe, tapi karena fasilitas yang terbatas, saya dirujuk ke RSUP Kandou Malalayang di Manado,” ujar Brian kepada arenapost.id, Selasa (1/4).

‎Saat menjalani rawat inap di Irina F selama 3 bulan dan menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Setelah itu, didiagnosis dengan Rabdo myo Sarkoma (tumor mata).

Setelah menjalani kemoterapi di Estella selama 2 tahun dan operasi pengangkatan bola mata yang rusak.

‎”Berkat bantuan medis dan doa, Saya dinyatakan sembuh total pada tahun 2012 telah menikah dan memiliki anak. ‎Saya ingin berbagi kesaksian ini untuk memberikan harapan dan inspirasi bagi mereka yang sedang berjuang melawan penyakit serupa,” pungkas Brian Antibe.

‎‎Iapun sangat bersyukur pada saat itu ada orang tua pasien lain, perawat – perawat dan dokter yang selalu support dan selalu mendampingi terutama Prof mantik.

Para tenaga medis di RSUP Kandou menjadi saksi perjuangan hidupnya hingga saat ini. (ben)