MANADO – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia kembali melaksanakan kegiatan lomba bedah data APBD.
Kegiatan ini diikuti lebih dari 1.300 peserta seluruh Indonesia dan lomba ini sifatnya beregu terdiri dari 3 siswa dan 1 guru.
“Tahun lalu bersyukur SMA Negeri 1 Manado meraih prestasi sangat membanggakan yaitu peringkat 3 nasional,” ucap Kepala SMA Negeri 1 Manado Jemmy J. Jermias SPd MPd, Rabu (24/04/2024).
Dia menyebutkan, lomba ini ada beberapa tahap yaitu tahap pertama mendaftar secara online sekaligus seleksi.
“Selanjutnya seleksi tahap penyaringan untuk mendapatkan peserta semifinal,” ucap Jermias.
Disebutkannya lagi, untuk tahap awal dan semifinal sifatnya online dan nantinya final akan dilaksanakan di kantor Kemenkeu Jakarta..
“Tahun ini yang mendaftar seluruh Indonesia ada 1.300 lebih peserta. ada sekolah – yang mengirim lebih dari 1 tim,” tuturnya.
SMAN 1 Manado mengirim 15 tim yang masuk di 1300an dan setelah melewati seleksi tahap 1 yang tersisa tinggal 285 peserta.
Dari 285 peserta ini, Sulawesi Utara (Sulut) meloloskan 5 peserta, di mana 2 pesertanya dari SMAN 1 Manado
SMA Eben Haezar, SMA Dian Harapan serta SMAN 1 Tenga masing – masing 1 tim.
“Jadi dari Sulut ada 4 sekolah dari 285 peserta yang lolos,” terang Jermias.
Saat ini sementara ada seleksi tahap 2. Dalam seleksi ini mereka akan menyusun karya tulis, menganalisa atau membedah data APBD, apakah Sulut atau Manado.
Anak – anak memilih tema menyangkut kesehatan khususnya tentang Stunting.
“Mereka akan membedah berapa dana yang pemerintah alokasikan untuk Stunting, penggunaannya seperti apa dan akan dibuat videonya,” ucap Jermias.
“Untuk tahun lalu torang mengambil tema tentang lingkungan saat anak -anak yang juara 3 nasional,” lanjut Jermias.
Kata Jermias, mereka membedah tentang alokasi dana APBD kota Manado terkait dengan pengelolaan sampah.
“Juga berapa besarnya kemudian pengaruhnya dan dampaknya seperti apa, itu yang mereka bedah,” papar Jermias.
Katanya, dalam lomba ini, ada debat, ada lomba tebak kata, cerdas cermat dan lain – lain
“Lomba ini agak rumit, cukup prestisius, bergengsi sekali karena anak – anak yang masuk final di adu langsung,” ucap Jermias.
Jermias mengatakan, anak – anak yang masuk final biasanya diambil yang 10 terbaik.
Ia berharap tim tahun ini bisa mengikuti jejak tim tahun lalu paling tidak bisa masuk di 10 besar yang finalnya di kantor kemenkeu Jakarta. (fer)

















