MANADO – Banyak metode yang dilakukan sebagian besar caleg dalam menghalalkan segala cara untuk terpilih pada pemilu 14 Februari 2024 nanti.
“Ada yang menghalalkan segala cara meski dilarang oleh UU pemilu. Seperti money politic, pelibatan ASN dan aparat dan ada yang menghalalkan segala cara yang memang tidak dilarang namun efeknya merusak kualitas pemilu,” ujar Dosen Kepemiluan Fisip Unsrat Ferry Daud Liando, Senin (08/1/2024).
Para Caleg terkesan memaksakan diri dengan berusaha mempopulerkan diri ke publik. Segala cara atau tabiat bisa dilakukan dalam rangka memperkenalkan diri ke publik.
Sekedar memenuhi salah satu kebutuhan pencalonan yakni elektabilitas. Berjibaku dengan siasat buruk bisa dilakukan para calon untuk memaksakan diri memperkenalkan diri ke publik.
“Salah satunya adalah menampilkan wajah-wajah polesan di berbagai pajangan baliho dan iklan seperti seorang pengemis mengharap belas kasihan agar dipilih kelak,” ujar Liando.
Liando mengatakan, perilaku ini adalah model politisi murahan karena abai melewati proses pembinaan dan prosedur politik secara sistematis.
Gaya politisi inipun sepertinya tanpa rasa malu memuji diri sendiri dengan segala kelebihan mereka. Banyak kalimat yang dikreasi sendiri oleh calon berbunyi “inilah calon yang jujur, sopan, dan pinter”.
“Kalaupun kelebihan itu benar adanya, harusnya pujian itu berasal dari orang lain, bukan dia sendiri yang memberi pujian atas dirinya”.
Banyak baliho yang dipajang sendiri oleh calon, bukan dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk kesadaran dan kesenangan terhadap calon.
“Tak pantas, tak sekedar karena itu bukan proses pendidikan politik yang tak waras namun juga memalukan karena posisi baliho banyak dipajang di kawasan pekuburan dan area tempat sampah,” jelasnya.
Lantas mengapa dalam momentum pilcaleg muncul politisi baliho seperti ini?. Pertama, ada sebuah pengakuan pelaku bahwa dedikasi dan kontribusinya di masyarakat masih sangat terbatas atau nihil.
Keterbatasan dedikasi itu menyebabkan tingkat popularitasnya masih sangat rendah. Sehingga ada keyakinan para politisi ini bahwa dengan memajang nama dan wajahnya di baliho akan mempengaruhi tingkat popularitasnya.
Di satu sisi, asumsi politisi model jenis ini ada benarnya. Karena elektabilitas seseorang ada kaitannya dengan popularitas. Namun popularitas dadakan lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya. Makanan instan sama berbahayanya dengan politisi instan.
Makanan instan adalah cara gampang bagi pemalas atau karena kebutuhan mendesak sebab tidak perlu repot mengelola dan memasak namun kerap berbahaya pada kesehatan dikemudian hari.
Politisi instan juga berpotensi berbahaya karena kebanyakan politisi instan adalah politisi tanpa visi. Sama persis karakteristiknya dengan makanan instan yaitu tanpa gisi. Popularitas bukan semata variabel tunggal bagi elektabilitas.
Seseorang yang dikenal publik belum tentu dipercaya. Sebab bisa saja popularitas seseorang bukan dibangun atas dasar prestasi tetapi sensasi.
Artis yang kawin cerai atau gemar berselingkuh ternyata mampu mendongrak popularitas Sehingga dikemudian hari diundang dalam talk show atau dikontrak sebagai bintang iklan atau film.
Popularitas model ini terjadi karena sensasi. Bagi seorang politisi, popularitas harus dibangun atas dasar prestasi bukan sekedar kreasi manipulasi citra dalam pemasangan wajah di baliho atau iklan media massa.
“Dalam rangkaian Survey calon yang pernah saya lakukan membuktikan bahwa orang yang dikenal ternyata belum tentu disegani pemilih. Dan orang yang disegani belum tentu dipercaya pemilih dan orang yang dipercaya tenyata belum tentu akan dipilih,” tuturnya.
Sepertinya hal ini luput atau sengaja dilupakan para politisi baliho. Kemudian, kemampuan berjejaring sosial sangat lemah. Dalam teori sosiologi, salah satu bentuk modal sosial (sosial capital) yang paling efektif adalah penguatan jejaring sosial.
Presiden Obama, sukses meniti karir di dunia politik dimulai dari mengorganisir kegiatan sosial di AS bagi kaum-kaum marginal.
Semakin luas dan lebar jejaring sosialnya maka interaksinya akan meluas dan melebar dan kondisi ini merupakan investasi politik yang ideal bagi seorang politisi ketimbang memaksakan masyarakat.
Mengenalkan dirinya dengan cara mempopulerkan diri lewat baliho, iklan atau mempengaruhi pemilih dengan cara menyogok.
Bahaya demokrasi seperti ini harusnya menjadi pelajaran berharga bagi partai politik dan pemilih parpol diberi mandat oleh UU untuk menyeleksi caleg.
Oleh karena itu, parpol perlu mengantisipasi munculnya politisi instan seperti ini.
“Kalaupun parpol sengaja melupakan, masih ada benteng terakhir membatasi ruang politisi minim prestasi untuk memenuhi ambisi gelapnya yaitu masyarakat atau pemilih,” terang Liando.
Seorang gadis yang terbiasa bersolek dengan bedak bermaksud mengundang daya tarik lawan jenisnya.
Namun bahayanya, wajah yang dihiasi itu kerap berbeda dengan wajah yang sebenarnya. “Jadi sesungguhnya politik bedak atau politik pencitraan sangat berbahaya bagi pemilih itu jika kelak terpilih,” ujarnya. (*/ben)

















