Meretas Stigma, Merangkul Mereka dengan Skizofrenia

83

Oleh: Dr. dr. Theresia Kaunang, SpKJ, Sub. Sp. AR (K)

Stigma terhadap skizofrenia adalah hambatan terbesar dalam penyembuhan. Stigma terkait dengan pandangan dan stereotip negatif dari masyarakat yang memberi label penyandang sebagai “berbahaya” atau “tidak bisa sembuh”.

Hal ini memicu diskriminasi luas, menghambat akses pengobatan medis, serta merusak kehidupan sosial penyintas.

Mengakhiri stigma ini sangat penting agar penderita mendapatkan dukungan dan perawatan yang layak. Skizofrenia adalah salah satu penyakit yang sering disalahartikan di dunia.

Ini adalah penyakit yang disebabkan oleh zat yang tidak stabil di dalam otak yang disebut neurotransmitter dopamine dan serotonin, sama seperti penyakit Alzheimer, Parkinson akan tetapi Skizofrenia lebih mudah diobati.

Ini dikatakan oleh Bethany Yeiser yang mengidap skizofrenia, merupakan Presiden dari Comprehensive Understanding via Reasearch and Education Into Schizophrenia Foundation yang didirikan bersama Psikiaternya Henry Nasrallah MD.

Yeiser juga merupakan pembicara motivasi dan penulis memoar Mind Estranged : My Journey From Schizophrenia and Homelessness to Recovery.

Perjuangan individu pemerhati skizofrenia tidak pernah akan berakhir. Hari kesadaran Skizofrenia Sedunia diperingati setiap tanggal 24 Mei.

Alangkah baiknya mata, mata hati dan pikiran kita beralih dan fokus sebentar kepada Gangguan Skizofrenia, Penyandang dan Keluarga untuk memberikan empati dan meningkatkan awareness terhadap skizofrenia.

Skizofrenia adalah gangguan mental berat yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan dan berperilaku. Kondisi ini menyebabkan penderitanya kesulitan membedakan antara kenyataan dan khayalan, ditandai dengan halusinasi, bicara kacau, perilaku kacau dan delusi/waham.

Halusinasi ditunjukkan dengan melihat, mendengar, mencium atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada, contohnya mendengar suara-suara gaib dan tidak ada objeknya/sumber suara.

Waham berupa keyakinan kuat yang tidak sesuai dengan kenyataan atau logika, misalnya merasa diawasi, merasa orang lain akan berbuat jahat, percaya diri yang berlebihan dan meyakini memiliki kekuatan super.

Terdapat pikiran kacau dan bicara kacau (berbicara melantur), sering menyusun kata-kata yang tidak masuk akal dan sulit konsentrasi. Dapat mengalami gejala negatif berupa menarik diri dari kehidupan sosial, malas merawat diri atau membersihkan diri, kehilangan minat, motivasi atau gairah hidup, berkurangnya ekspresi wajah atau respons emosional yang menumpul.

Penyakit ini bersifat kronis atau jangka panjang, namun penyandang skizofrenia dapat hidup mandiri dan produktif jika mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Jika anda, keluarga anda atau teman anda menunjukkan gejala-gejala ini, segera cari bantuan profesional medis seperti psikiater atau fasilitas kesehatan jiwa terdekat Dukungan profesional sangat penting karena dibutuhkan bantuan untuk mengelola kesehatan mental.

Walaupun memerlukan perawatan berkelanjutan, skizofrenia bukanlah “aib” atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Penanganan yang tepat meliputi terapi farmakologi (dengan obat-obatan) dikombinasi dengan terapi non farmakologi (tanpa obat-obatan).

Pemberian antipsikotik berguna untuk mengontrol dan meredakan gejala halusinasi serta delusi/waham. Psikoterapi berupa CBT diberikan jika pasien sudah mulai sembuh dan jalan pikirannya mulai baik untuk membantu pasien mengelola stress dan membentuk pola pikir yang sehat.

Dukungan keluarga dan dukungan sosial diperlukan yaitu lingkungan yang suportif dan penuh empati sangat dibutuhkan penderita untuk bisa kembali beraktivitas secara normal.

Sekitar 25 % individu dapat mencapai pemulihan sempurna dan melanjutkan kehidupannya seperti sedia kala. Support system/dukungan sosial adalah pilar utama dalam perawatan skizofrenia untuk mencegah kekambuhan dan meningkatkan kualitas hidup.

Dukungan ini melibatkan keluarga, tenaga profesional dan komunitas, dukungan medis, asuransi kesehatan, psikososial dan lingkungan yang stabil. Fondasi utama adalah dukungan keluarga.

Dukungan keluarga yang optimal secara signifikan membantu menekan angka kekambuhan, meningkatkan kepatuhan minum obat dan mendukung fungsi sosial serta kualitas hidup penderita di masyarakat.

Bentuk dukungan keluarga yang efektif berupa dukungan emosional yaitu memberikan rasa aman, kasih sayang dan penerimaan tanpa syarat untuk mengurangi stress.

Dengarkan keluh kesah mereka tanpa menghakimi. Dukungan instrumental yaitu menbantu kebutuhan praktis sehari-hari seperti menyiapkan makanan, menjaga kebersihan dan memastikan ketersediaan obat.

Dukungan informasional yaitu mengedukasi diri sendiri mengenai skizofrenia, mengenali tanda-tanda kekambuhan, serta mencari informasi sumber bantuan profesional.

Dukungan penilaian/penghargaan yaitu memberikan dukungan moral dan memotivasi penderita untuk melakukan berbagai aktivitas positif atau rehabilitasi sesuai kemampuannya.
Jika keluarga minim pengetahuan, maka keluarga perlu diberikan edukasi mengenai sifat penyakit, pengobatan dan cara menghadapi gejala (seperti waham dan halusnasi) tanpa memicu konflik.

Dalam aktivitas sehari-hari keluarga mendampingi pasien dengan membantu mengingatkan jadwal minum obat dan mengantar pasien kontrol ke psikiater. Lakukan komunikasi asertif dengan menghindari kritik berlebihan (yang dapat meningkatkan stress penderita) serta menciptakan lingkungan suportif.

Langkah praktis untuk keluarga yaitu pastikan pengobatan rutin, ciptakan lingkungan tenang, bergabung dengan komunitas, kelola stress anda sendiri (keluarga). Dukungan tim medis dan professional dalam hal ini psikiater akan mengelola resep obat antispikotik untuk mengontrol gejala utama dan menangani efek samping obat sekaligus memberikan psikoterapi.

Dukungan komunitas dan peer support sangat diperlukan dengan menghubungkan penderita maupun keluarga dengan sesama penyintas sangat penting agar mereka tidak merasa sendirian.

Peer Supprot Group berupa kelompok dukungan, tempat pasien dan keluarga dapat berbagi pengalaman dan strategi bertahan hidup. Komunitas yang ada di Indonesia yaitu Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) yang aktif mengadakan pertemuan rutin untuk mendukung pasien, keluarga maupun caregiver.

Rehabilitasi psikososial skizofrenia adalah serangkaian terapi untuk memulihkan kemandirian, fungsi sosial dan produktivitas pasien. Hal ini dicapai melalui pelatihan ketrampilan hidup, dukungan keluarga dan intervensi kognitif, yang penting untuk mencegah kekambuhan dan meningkatkan kualitas hidup secara komprehensif.

Tujuan utama adalah meningkatkan kemandirian, mengurangi kekambuhan dan restorasi fungsi (kognitif, motorik, afektif) pasien agar dapat kembali produktif dan bersosialisasi di tengah masyarakat.

Komponen program rehabilitasi berupa pelatihan ketrampilan sosial (SST), remediasi kognitif, pelatihan vokasional & edukasi, dukungan keluarga dan manajemen gejala & obat. Program ini biasanya berjalan beriringan dengan pengobatan medis (farmakoterapi) dan disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu.

Stigma pada skizofrenia memicu diskriminasi luas, menghambat akses pengobatan medis, serta merusak kehidupan sosial penyintas. Mengakhiri stigma ini sangat krusial agar penderita mendapatkan dukungan dan perawatan yang layak.

Bentuk stigma pada skizofrenia yaitu stigma sosial (eksternal) yaitu penolakan di lingkungan masyarakat, tempat kerja, institusi pendidikan, hingga penolakan dari keluarga sendiri dan stigma diri (internal) muncul ketika penyandang menginternalisasi stereotip negatif tersebut, sehingga merasa malu, rendah diri dan putus asa.

Terdapat mitos yang keliru di masyarakat yaitu gangguan skizofrenia dianggap “kerasukan” atau”akibat kurang iman”. Pemahaman tradisional yang salah, seringkali menyebabkan penderita dibawa ke pengobatan alternatif yang tidak tepat, bukan dibawa ke pengobatan medis sehingga menjadi lebih buruk gejalanya.

Penyandang skizofrenia dianggap selalu berbahaya, padahal secara statistik, penyandang skizofrenia lebih berisiko menjadi korban kejahatan daripada pelaku kekerasan.

Dampak yang merusak atau efek domino, adalah terjadi hambatan pemulihan, rasa takut dihakimi, sehingga banyak penyintas menyembunyikan kondisinya dan enggan mencari bantuan profesional, sehingga penanganan sering terlambat. Isolasi sosial sering terjadi karena penyandang dikucilkan, dikurung di dalam rumah bahkan dalam kasus yang ekstrim dipasung di belakang rumah atau di kebun, akibat rasa malu keluarga.

Skizofrenia adalah gangguan mental yang menyebabkan distorsi realitas, seperti haludinasi atau waham, yang seringkali disalahpahami oleh masyarakat. Cara melawan stigma yaitu melalui edukasi dan literasi yaitu memahami secara ilmiah bahwa skizofrenia adalah gangguan medis kompleks pada fungsi otak dan bukan sekedar “hilang akal” atau “gila”.

Berhenti menggunakan istilah secara sembarangan, misalnya menghindari penggunaan kata “skizofrenia” secara bercanda di media sosial untuk menggambarkan perilaku aneh, karena hal ini menyesatkan publik.

Lakukan pendekatan empati dengan mendengarkan cerita penyintas dan mendukung pengobatan medis mereka. Katakan “TIDAK” pada stigma skizoferenia dengan menolak mitos keliru, menghentikan label negatif dan memberikan dukungan kepada para penyintas.

Skizofrenia bukanlah “kurang iman” atau kelemahan karakter, melainkan gangguan kesehatan jiwa yang mana terjadi perubahan dalam zat di otak yang dapat dikelola dengan pengobatan dan dukungan yang tepat dari lingkungannya.

Luruskan mitos yaitu penyandang skizofrenia tidak selalu berbahaya, tidak memiliki kepribadian ganda. Stigma media sosial seringkali melebih-lebihkan. Dengarkan tanpa menghakimi, berikan ruang aman bagi penyintas untuk bercerita dan hindari kata-kata merendahkan yang membuat mereka enggan mencari pengobatan.

Dukung proses pengobatan dengan pendampingan terhadap pasien untuk mendapatkan akses layanan kesehatan jiwa atau berkonsultasi dengan professional agar mereka tetap bisa hidup produktif. Ciptakan lingkungan inklusif, pahami kondisinya dan stop diskriminasi sekarang juga!

Sekalipun skizofrenia dapat dikatakan sebagai hal terburuk yang dapat terjadi pada manusia, akan tetapi skizofrenia dapat menjadi pengalaman berharga. Skizofrenia bukanlah identitas, melainkan hanya bagian dari perjalanan hidup dan membentuk keteguhan, seperti yang dinarasikan oleh Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia.

Seorang penyintas mengatakan bahwa “keberuntungan saya bukanlah karena saya telah sembuh dari penyakit mental;. Keberuntungan saya terletak pada kenyataan bahwa saya telah menemukan cara untuk menjalani hidup dengan bermakna”.

Dengar dan validasi, ketika seorang dengan skizofrenia berbicara, mereka membutuhkan pendengar yang suportif dan bukan penghakiman”

Tujuan utama Hari Kesadaran Skizofrenia adalah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, menghapus stigma negatif dan mendorong deteksi dini serta akses pengobatan bagi para penyintas skizofrenia.

Memberikan edukasi bahwa skizofrenia adalah gangguan kesehatan jiwa bersifat medis yang nyata, bukan sekedar “lemah mental” atau sesuatu yang harus ditakuti.

Edukasi juga fokus pada pentingnya peran orangtua, keluarga dan lingkungan (sekolah, pekerjaan) maupun masyarakat umum dalam melakukan deteksi dini. Say No to Schizophrenia Stigma. (**)