White Collar Crime

99
Ist

Oleh : Theresia Kaunang

White collar crime atau kejahatan kerah putih. Istilah ini mengacu pada kejahatan non-kekerasan yang bermotif finansial, biasanya dilakukan oleh seseorang dari kelas sosial ekonomi atas, profesional atau pemegang jabatan tinggi.

Kejahatan kerah putih dilakukan oleh individu berpendidikan tinggi, pejabat atau eksekutif yang memiliki wewenang atau akses kepercayaaan dalam pekerjaannya. Kejahatan ini tidak menggunakan kekerasan fisik, melainkan manipulasi, kecurangan atau penyalahgunaan sistem.

Kejahatan ini biasanya terencana, rapi dan sulit dilacak karena memanfaatkan celah hukum, keuangan atau digital. Beberapa contoh kejahatan kerah putih adalah korupsi atau suap yaitu penyalahgunaan dana publik atau penyelewengan wewenang untuk keuntungan pribadi.

Penggelapan dana dan penipuan yaitu memanipulasi laporan keuangan perusahaan. Pencucian uang yaitu dengan menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul uang hasil kejahatan.

Perbedaan white collar crime dengan blue collar crime yaitu istilah untuk kejahatan konvensional yang sering dilakukan oleh kelompok masyarakat kelas bawah. Kejahatan kerah biru ini biasanya berupa tindakan impulsif atau fisik seperti pencurian, perampokan dan penyerangan.

White collar crime berhubungan dengan kepribadian pada manusia. Kepribadian narsisistik berhubungan dengan white collar crime sangat erat karena ciri psikologis tertentu mendorong individu untuk mengeksploitasi sistem demi keuntungan pribadi.

Beberapa aspek mental yang menghubungkan antara kepribadian narsisistik dan white collar crime yaitu grandiositas (rasa berlebih pada diri sendiri), kurangnya empati, kebutuhan akan validasi dan status, rasionalisasi dan pembenaran, bagian dari “Dark Triad”.

Individu narsisistik merasa lebih baik dari orang lain dan merasa berhak atas kesuksesan yang luar biasa. Bermegah dengan keberhasilan dan menjadi congkak.

Perasaan “istimewa” ini, membuat mereka merasa aturan hukum yang berlaku untuk orang lain atau orang biasa, tidak berlaku bagi mereka.

Hal ini disebut grandiositas atau rasa berlebih pada diri sendiri, rasa bermegah diri, perasaan superioritas, berkuasa, merasa keunikan berlebihan yang tidak realistis.

Merasa dan meyakini bahwa diri mereka sangat istimewa, lebih unggul dari orang lain dan berhak mendapatkan perlakuan khusus meskipun tidak didukung oleh fakta atau pencapaian nyata.

Mereka suka melebih-lebihkan bakat, pencapaian dan kepentingan diri sendiri di atas orang lain, cenderung memonopoli percakapan dan merendahkan orang yang dianggap tidak setara.

Sangat membutuhkan validasi, pujian dan kekaguman dari lingkungan sekitarnya, memiliki angan-angan tanpa batas mengenai kesuksesan, kekuasaan atau kecerdasan.

Kurangnya empati merupakan bagian dari narsisistik, yairu cenderung mengabaikan dampak buruk mereka terhadap orang lain atau masyarakat.

Hal ini memudahkan mereka melakukan penipuan atau penggelapan dana tanpa merasa bersalah. Pelaku sering mengejar simbol status yang tinggi untuk mendapatkan pengakuan.

Keinginan untuk mempertahankan citra sukses dapat mendorong mereka melakukan manipulasi keuangan atau korupsi saat menghadapi tekanan.

Hal ini berkaitan dengan kebutuhan akan validasi dan status. Individu narsisistik mahir meyakinkan diri sendiri bahwa tindakan ilegal mereka adalah respons yang wajar terhadap “sistem yang salah” atau demi tujuan yang lebih besar.

Padahal mereka menghalalkan segala cara untuk melanggar aturan atau melangkahi sistem yang ada.

Narsisisme sering muncul bersama sifat Machiavellianism (manipulatif) dan psikopati, yang secara kolektif meningkatkan risiko seseorang terlibat dalam perilaku kriminal di dunia bisnis ataupun dunia pekerjaan.

Beberapa bentuk kejahatan kerah putih yang sering dikaitkan dengan profil kepribadian narsisistik yaitu mengeksploitasi jabatan untuk kepentingan pribadi (korupsi dan penyuapan), memalsukan data untuk menampilkan performa yang lebih baik dari kenyataan (penipuan keuangan/Fraud), pencucian uang dan penggelapan.

Kepribadian Machiavellian adalah ciri yang ditandai oleh sifat manipulatif, egois, sinis terhadap moralitas dan fokus menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan pribadi.

Istilah ini berasal dari pemikiran filsuf Niccolo Machiavelli dalam bukunya The Prince, yang melegalkan taktik kejam demi kekuasaan.

Ciri utama adalah manipulatif dan penuh perhitungan, kurang empati, mengenyampingkan etika, norma dan moral demi hasil akhir yang memuaskan kepentingan mereka.

Mereka kurang memiliki empati dan tidak peduli terhadap penderitaan orang lain, namun memiliki empati kognitif yang tajam untuk membaca kelemahan lawan.

Cenderung lihai dalam bersiasat dan mampu keluar dari situasi rumit tanpa membiarkan orang lain mengetahui cara yang mereka gunakan, serta tenang di bawah tekanan.
Gangguan kepribadian psikopatia berkaitan erat dengan white collar crime.

Pelaku kejahatan ini kerap dikenal sebagai psikopat korporat. Mereka tidak melakukan kekerasan fisik, melainkan menggunakan kecerdasan dan posisi profesionalnya untuk melakukan manipulasi, penipuan dan skema keuangan ilegal.

Psikopat tidak memiliki rasa bersalah, malu atau berempati terhadap penderitaan orang lain. Hal ini memungkinkan mereka merencanakan penggelapan dana, korupsi atau penipuan skala besar tanpa terbebani masalah moral.

Ciri khas psikopat adalah sangat pandai bersandiwara. Mereka kerap tampil menawan, karismatik, dan sangat percaya diri yang memuluskan langkah mereka menduduki posisi eksekutif, direktur atau pejabat tinggi. Pelaku psikopat biasanya menikmati tantangan dalam kejahatan dan mengabaikan logika.

Dark Triad adalah konstelasi tiga sifat kepribadian berbahaya yang dicirikan oleh manipulasi, kurangnya empati dan pengejaran kepentingan pribadi. Sifat ini saling tumpang tindih yaitu Narisisisme, Machiavellianisme dan Psikopati.

Bentuk narsisisme yang menonjol berupa rasa mementingkan diri sendiri yang ekstrim, kebutuhan konstan akan kekaguman, egoisme dan superioritas.

Machiavellianisme yang menonjol berupa sikap sinis, tidak peduli pada moralitas dan sifat manipulatif yang terencana untuk mencapai tujuan pribadi.

Psikopati yang menonjol adalah tingkat impulsivitas yang tinggi, perilaku antisosial serta ketidakmampuan secara total untuk merasakan penyesalan atau empati saat menyakiti orang lain.

Seseorang dengan Dark Triad kerap kali tampil menawan atau karismatik di permukaan untuk mengeksploitasi, menipu atau merugikan orang lain demi keuntungan pribadi. Dark triad yang menjadi pendorong utama seseorang melakukan kejahatan kerah putih.

Mengembalikan ingatan kita terhadap Grigori Rasputin seorang tabib Rusia yang memproklamirkan diri sebagai orang suci yang berteman dengan keluarga Nicholas II, kaisar terakhir Rusia.

Memiliki kepribadian yang sangat kontradiktif, memadukan daya tarik spiritual yang kuat dan kharisma magnetis dengan sisi gelap hedonis.

Di satu sisi ia dipandang sebagai mistikus dan “orang suci” yang karismatik, namun disisi lain reputasinya dikenal sebagai sosok manipulatif. Rasputin dapat dikatakan memerankan Triad Dark dengan tiga sifat (Narsisisme, Machiavellianism dan Psikopati).

Sifat Machiavellianism yaitu ia dikenal sangat pandai membaca emosi dan mengeksploitasi kerentanan orang lain.

Ia menggunakan pengaruh spiritualnya untuk memanipilasi Tsar Nicholas II dan Tsarina Alexandra demi mendapatkan kekuasaan politik di Kekaisaran Rusia.

Narsisisme yang dimiliki oleh Rasputin adalah sebagai seorang mistikus, ia mampu membangun pesona yang ekstrem, mengklaim dirinya sebagai utusan Tuhan dan menuntut pemujaan dari pengikutnya (terutama perempuan dari kalangan bangsawan).

Pskopati yang dimilikinya mencirikan sifat yang tidak memiliki rasa bersalah, melakukan skandal seksual, eksploitasi dan melakukan pembenaran dengan dalih spiritual.

Keperibadian Sengkuni (tokoh antagonis dalam kisah mahabharata) sangat merepresentasikan konsep Triad Dark. Narsisisme yang dimilikinya adalah ia memiliki ambisi yang ekstrem, rasa dendam yang besar berakar dari harga diri yang terluka dan obsesi untuk menguasai Takhta Hastinapura.

Machiavellianism yang menonjol berupa berperan sebagai master manipulasi, licik dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan politiknya. Ia pandai memfitnah dan menghasut tanpa kenal belas kasihan. Psikopati dari Sengkuni yaitu tidak memiliki empati terhadap penderitaan orang lain.

Ia merasa senang dan puas melihat kehancuran serta konflik di kubu Pandawa. Ketiga sifat tersebut menyatu dalam diri Sengkuni sebagai sosok perencana kejatahan yang dingin dan penuh perhitungan.

Dari tulisan ini menjadi bahan pemikiran dan analisis bahwa dunia pekerjaan tidak baik-baik saja, senantiasa ada saja karakter manusia yang berkaitan dengan kejahatan kerah putih.

Waspadalah terhadap mereka yang selalu terlihat sempurna; seringkali pesona itu adalah jaring yang dipersiapkan untuk menjebak anda.

Orang Machiavellian tidak bermain untuk menang, mereka bermain untuk mengendalikan permainan, dan bagi mereka pengkhianatan hanyalah sebuah strategi.

Tujuan membenarkan cara yang diterapkan Machiavellian adalah prinsip utama manipulator, mereka tidak melihat manusia sebagai teman, melainkan sebagai pion untuk mencapai puncak.

Bagi seorang narsisisme, dunia adalah panggung dan orang lain hanyalah properti pendukung untuk memuaskan kehausan mereka akan validasi.

Cinta bagi mereka yang memiliki sifat narsisisme yang ekstrem bukanlah tentang memberi, melainkan tentang bagaimana orang lain bisa memantulkan kehebatan mereka.

Seorang psikopati seringkali tampak tenang dalam badai, bukan karena mereka kuat, melainkan karena mereka kebal terhadap rasa bersalah.

Jangan pernah mencari hati pada seseorang yang melihat air mata anda sebagai kelemahan yang bisa dimanfaatkan.

Menjadi pelajaran hidup bahwa berurusan dengan kepribadian Triad Dark, membutuhkan batas yang tegas, anda tidak bisa menyembuhkan racun dengan terus menerus meminumnya.

Terkadang, jarak adalah respons paling bijak ketika berhadapan dengan individu yang memanfaatkan kebaikan anda untuk kepentingan mereka sendiri.

Pertahanan terbaik melawan manipulator ulung adalah pengamatan yang tenang dan tidak membiarkan emosi anda dikendalikan oleh drama mereka. (**)