MANADO – Politeknik Negeri Manado (Polimdo) komitmen menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).
Kegiatan itu berlangsung di GMIM Zebaoth Kairagi Dua, Manado, Sabtu (28/03/2026).
Fokus utama kegiatan tersebut soal pengabdian pemberdayaan ekonomi berbasis jemaat dengan mengusung tema Penguatan Kapasitas UMKM Jemaat melalui Pelatihan Manajemen Usaha dan Akuntansi.
Acara ini menghadirkan suasana pembelajaran yang hangat sekaligus reflektif.
Kegiatan ini menjadi ruang strategis antara dunia akademik dan praktik kehidupan ekonomi jemaat yang sehari-hari bergelut dengan tantangan usaha mikro.
Antusiasme jemaat terlihat nyata sejak awal kegiatan. Kehadiran Ketua Majelis Jemaat (BPMJ), Pdt Anneke Like Pongoh STh memberikan makna tersendiri.
Pdt Anneke menegaskan bahwa pemberdayaan ekonomi bukan sekadar program teknis, melainkan bagian integral dari pelayanan gereja yang menyentuh kebutuhan riil masyarakat.
Menurutnya, gereja memiliki peran strategis dalam membangun kemandirian ekonomi jemaat, sehingga pelatihan ini menjadi sangat relevan dan kontekstual.
Tim dosen Polimdo yang terlibat memandang kegiatan ini sebagai proses belajar.
Dr Kiet Tumiwa SE MM Ak CA menekankan bahwa pengelolaan usaha yang tangguh harus dimulai dari kedisiplinan pencatatan keuangan yang sederhana namun konsisten.
“Banyak usaha kecil gagal berkembang bukan karena kurangnya peluang, tetapi karena lemahnya manajemen internal,” ujar Dr Kiet dalam pemaparannya.
Senada dengan itu, Nixon Sondakh SE MSi mengungkapkan bahwa pelaku UMKM wajib memiliki pola pikir kewirausahaan yang adaptif.
Kemampuan membaca peluang dan mengelola risiko menjadi kunci keberlanjutan usaha di era yang terus berubah.
Dari sisi legalitas, Jolly L.R. Turangan SH MHum menyoroti pentingnya aspek hukum sebagai fondasi perlindungan bagi pelaku UMKM.
Hal ini diperkuat oleh Jeane Ch. Lasut SH MH yang mengajak jemaat untuk memiliki kesadaran hukum dalam menjalankan usaha secara tertib dan bertanggung jawab.
Sementara itu, Dr Dra Rolina E. Manggopa MPd memberikan perspektif edukatif bahwa peningkatan kapasitas adalah proses berkelanjutan.
“Peningkatan kapasitas tidak bisa dicapai hanya dalam satu kali pelatihan, melainkan membutuhkan pendampingan yang konsisten,” jelasnya.
Kontribusi pemikiran juga diberikan oleh deretan dosen pakar lainnya, di antaranya Jufry Rompas SE MSi, Novy J. Kasenda SE MSi, Treesje L. Runtuwene SE MAP, Grace Ropa SE MSi, Selvie J. Nangoy SE MSi, Deasy Lusiana SE MSi dan Ruhiyat SE MSi.
Mereka sepakat bahwa integrasi antara teori akademis dan praktik lapangan adalah pendekatan paling efektif untuk membangun UMKM berdaya saing.
Para peserta menyambut positif kegiatan ini. Beberapa anggota jemaat mengakui bahwa pelatihan ini menjadi titik balik bagi mereka untuk mulai memperbaiki manajemen usaha yang selama ini hanya dijalankan berdasarkan pengalaman tanpa perencanaan matang.
Melalui kegiatan ini, diharapkan UMKM jemaat dapat bertransformasi menjadi pilar ekonomi lokal yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan.
Mempererat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. (*/red)





















