Tradisi Seke Maneke Hidup Kembali, Pulau Para Lelle Jadi Sorotan Wisata Budaya

344
Istimewa

SANGIHE – Tradisi adat Seke Maneke kembali digelar di Kampung Para Lelle, Kecamatan Tatoareng, Kabupaten Kepulauan Sangihe, setelah lama tidak dilaksanakan sejak terakhir kali pada tahun 1980-an.

Berkat gagasan dan inisiatif dari para pemerhati budaya, pemerintah kampung, tokoh masyarakat, serta dukungan warga setempat, tradisi ini dihidupkan kembali pada tahun 2024 dan terus berlanjut pada tahun 2025 dengan pelaksanaan yang lebih meriah dan istimewa.

Tahun ini, festival Seke Maneke mendapat perhatian besar karena dihadiri oleh tamu-tamu penting dari tingkat provinsi, kabupaten, bahkan dari luar negeri.

Salah satu momen puncak dalam rangkaian festival adalah pelaksanaan ritual adat Mamata yang digelar pada Rabu, (11/6/2025) pukul 17.00 WITA di lapangan Kampung Para Lelle.

Acara ini disaksikan langsung oleh Bupati Sangihe Michael Thungari SE MM, Wakil Bupati Tendris Bulahari, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Utara dr. Kartika Tanos, Staf Khusus Gubernur Bidang Pariwisata Dr. Drevy Malalantang, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sangihe Sony Kapal, serta sejumlah undangan lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Sulut, dr. Kartika Tanos, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan ritual dan potensi pariwisata yang dimiliki oleh Pulau Para Lelle.

“Ritual di festival Seke Maneke ini, hal yang unik dan menjadi magnet destinasi wisata untuk para wisatawan, baik wisatawan lokal dan mancanegara untuk berkunjung di sini, dan acara seperti ini tidak semua daerah yang ada,” katanya.

Ia juga terkesan dengan keindahan alam dan kekayaan budaya Pulau Para Lelle yang dikenal dengan sebutan Negeri 8 Pantai.

“Ternyata Pulau Para Lelle ini bagus sekali, banyak pantainya, dan pemandangannya indah, apalagi ada adat istiadatnya ya, yaitu Seke Maneke dan tidak semua daerah di Indonesia ada acara adat seperti ini. Saya pun baru pertama kali datang ke sini, apalagi Para Lelle Desa Wisata dan masuk di 300 besar di nasional. Oleh karena itu, ke depan kita harus berkolaborasi baik Pemerintah Provinsi, Pemerintah Daerah, stakeholder, dan masyarakat untuk mempersiapkan Desa Para Lelle ini sebagai Desa Wisata yang lebih maju dan berkembang ke depan,” tutupnya.

Dengan kembalinya tradisi Seke Maneke, masyarakat Kampung Para Lelle menunjukkan komitmen untuk melestarikan budaya leluhur sekaligus mendorong potensi daerah sebagai destinasi wisata budaya dan alam yang unik di Kepulauan Sangihe. (IvAn)