Ciri- ciri Gejala Awal Penyakit TB pada Anak, Ini Penjelasan dr Prasilia Najoan

317
dr Prasilia Najoan SpA(K) saat memaparkan materi yang disambut antusias warga juga orang tua pasien. (foto ben)

MANADO – Tuberkulosis (TBC) atau yang kini lebih dikenal dengan sebutan TB adalah salah satu penyakit infeksi pernapasan paling mudah menular pada anak, terutama yang berusia di bawah lima tahun.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, dari 503.712 orang Indonesia yang mengidap TBC sejak 1 Januari – 1 November 2022 sebanyak 61.594 kasusnya adalah dari anak-anak usia 0-14 tahun.

Anak Rentan Terkena TBC Karena Apa?

Ini menjadi pembahasan menarik yang dibahas Promkes RSUP Kandou saat menggelar edukasi kesehatan dengan mengangkat topik Lindungi anak dari penyakit Tuberkulosis.

Pentingnya terapi pencegahan Tuberkulosis yang digelar Rabu (26/3/2025), dengan pembawa materi dr Prasilia Najoan SpA (K) dokter spesialis anak subspesialis respilogogi.

dr Prasilia Najoan SpA (K) menjelaskan TBC adalah penyakit yang diakibatkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Bakteri ini menyebar dari satu orang ke orang lain melalui droplet (cipratan air liur) yang keluar dari mulut penderita saat batuk atau bersin tanpa menutup mulut dan hidung, membuang dahak sembarangan atau bahkan saat berbicara tanpa menggunakan masker.

Begitu tetesan ini beterbangan di udara, siapa pun di dekatnya dapat menghirupnya.

“Anak-anak yang terkena TBC kemungkinan besar tidak tertular dari teman-teman sebayanya, melainkan dari orang dewasa di sekitarnya yang menderita penyakit tersebut.

Ketika orang dewasa yang menderita TBC batuk atau bersin, bakteri penyebab TBC akan menyebar ke udara.

Pada saat itulah, penularan penyakit TBC ke orang-orang di sekitarnya dapat terjadi.

Salah satu faktor risiko terbesar yang dapat meningkatkan peluang anak tertular TB adalah sirkulasi udara yang buruk dalam ruangan.

Bakteri tuberkulosis memang lebih mudah menyebar di ruang tertutup dengan sirkulasi udara yang buruk.

“Dalam lingkungan yang tertutup dan lembap, bakteri TB dapat bertahan di udara selama sekitar satu hingga dua jam,” ujar dr Prasilia Najoan.

Sebuah penelitian dari American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine tahun 2021 melaporkan, polusi udara dalam ruangan (misalnya, karena asap rokok) terkait dengan peningkatan kemungkinan infeksi tuberkulosis laten pada anak-anak yang tinggal serumah dengan pasien tuberkulosis aktif.

Beberapa penelitian pun telah menunjukkan bahwa anak yang terpapar asap rokok secara pasif mengalami peningkatan risiko TB aktif.

Selain itu, polusi udara luar ruangan yang belakangan ini semakin memburuk juga merupakan faktor risiko TB.

Paparan polusi udara secara langsung dapat mempengaruhi organ pernapasan anak dan menurunkan fungsi paru-paru melalui peningkatan stres oksidatif paru dan peradangan yang terus-menerus.

Beberapa faktor risiko lain seperti riwayat imunisasi serta asupan gizi juga terbukti meningkatkan kerentanan anak terhadap infeksi TB.

Bagaimana Cara Mengetahui Anak Terkena TBC?

TBC pada anak biasanya tidak memunculkan gejala yang spesifik dan khas sehingga bisa menyebabkan kesalahan diagnosis yang berpengaruh terhadap pengobatan dan dapat menyebabkan perburukan kondisi seiring dengan berjalannya waktu.

Beberapa anak dengan tuberkulosis paru aktif juga bisa saja asimtomatik, sehingga sulit dibedakan dengan tuberkulosis laten.

Untuk itu, kita perlu mengetahui apa saja gejala-gejala TBC yang umum terjadi pada anak. TB pada anak gejalanya tidak selalu berupa batuk.

Gejala utama tuberkulosis paru pada anak meliputi kelelahan, keringat pada malam hari, lemas, penurunan berat badan atau berat badan tidak naik selama 2 bulan berturut-turut, dan anak terlihat kurang aktif sehingga tidak mau bermain.

Batuk persisten yang terjadi lebih dari 2 minggu yang makin lama makin parah dan tidak membaik dengan pemberian antibiotik juga menjadi gejala utama dari tuberkulosis paru pada anak yang umum.

Dalam beberapa kasus, anak-anak bisa mengalami flu-like syndrome yang pulih dalam waktu seminggu.

Ketika infeksi bakteri semakin berkembang, anak bisa mengalami keluhan nyeri dada, batuk, dan hemoptisis atau batuk berdahak yang disertai dengan darah (meski yang ini jarang terjadi).

Tanda dan gejala lain termasuk:

– Demam yang umumnya tidak tinggi (berlangsung kurang lebih selama 15 hari dan atau berulang tanpa sebab, yang sering muncul di malam hari).
– Pembengkakan kelenjar getah bening di daerah leher rahang bawah, ketiak, dan selangkangan.
– Turunnya nafsu makan.
– Mengalami penurunan berat badan atau berat badan tidak naik selama 2 bulan berturut-turut.

“Gejala TBC yang sulit dideteksi ini menjadi tantangan utama dalam mengidentifikasi penyebab TB pada anak.

Mencegah infeksi TBC bukan hanya membutuhkan tubuh yang sehat dan imun yang kuat, tetapi juga memperhatikan kebersihan lingkungan rumah atau tempat tinggal,” pungkasnya. (ben)