
BITUNG — Program ekspor langsung atau Direct Call dari Pelabuhan Bitung ke China mulai memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha di Sulawesi Utara.
Jalur pelayaran langsung ini juga menurunkan biaya logistik sehingga meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia Timur di pasar internasional.
Hal tersebut mengemuka dalam kunjungan asistensi ekspor yang dilakukan Kepala Bidang Fasilitas Kanwil Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara, Adeltus Lolok, ke PT Benteng Laut Sejahtera (BLS) di Bitung, Sulawesi Utara, Selasa (26/05/2026).
Perusahaan tersebut merupakan eksportir produk olahan tuna berupa frozen loin yang dipasarkan ke Vietnam dan Thailand.
Direktur Utama PT BLS, Alexandre Sarumaha, mengatakan selama ini pengiriman ekspor dari Bitung harus melalui jalur berputar, yakni transit ke Jakarta atau Surabaya, kemudian ke Singapura sebelum diteruskan ke negara tujuan di Asia Tenggara.
Rute tersebut membuat waktu pengiriman bisa mencapai 40 hari. Kondisi ini tentu memengaruhi kualitas produk karena komoditas kami adalah produk perikanan beku.
“Selain itu, arus kas perusahaan juga menjadi kurang efisien karena pembayaran dari pembeli diterima lebih lama,” ujar Alexandre.
Menurut dia, pemanfaatan layanan Direct Call dari Bitung membuat produk tuna perusahaan kini dapat tiba di Vietnam maupun Thailand hanya dalam sekitar 10 hari.
Selain lebih cepat, biaya pengiriman juga lebih rendah sehingga harga produk menjadi lebih kompetitif.
“Dengan Direct Call, kualitas produk tetap terjaga dan pembayaran dapat diterima lebih cepat. Dari sisi biaya, kami bisa menghemat sekitar 1.000 dollar AS per kontainer,” katanya.
Hingga Mei 2026, sedikitnya telah dilakukan tiga kali uji coba layanan Direct Call dari China ke Bitung.
Total muatan mencapai sekitar 221 kontainer atau 445 TEUs, dengan komoditas yang diangkut antara lain olahan kertas (bobbin paper), produk perikanan, turunan kelapa, arang kelapa, pala, dan sejumlah komoditas ekspor lainnya.
Dalam diskusi tersebut, pegiat Sulut Go Ekspor, Alan Harvey, menyoroti masih terbatasnya ketersediaan kontainer internasional di Bitung, sementara potensi ekspor dari Sulawesi Utara dan kawasan Indonesia Timur terus meningkat.
Menanggapi hal itu, Adeltus Lolok mengatakan Bea Cukai bersama berbagai instansi terkait tengah berkoordinasi untuk mencari solusi atas kelangkaan kontainer ekspor di kawasan Indonesia Timur.
Menurut dia, keberlanjutan layanan Direct Call perlu dijaga agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh pelaku usaha.
Semua pihak saat ini berupaya agar Bitung dapat berkembang menjadi hub logistik untuk mendukung kemajuan Sulawesi Utara dan Indonesia Timur.
“Masih ada beberapa regulasi yang dapat ditinjau ulang agar semakin banyak eksportir memperoleh manfaat nyata dari layanan Direct Call ini,” ujar Adeltus.
Ia menambahkan, Pelabuhan Bitung juga terus melakukan pembenahan layanan agar kapal internasional dapat memperoleh pelayanan yang lebih cepat dan efisien saat sandar.
Kehadiran jalur pelayaran langsung dari Bitung menuju kawasan Asia Timur dinilai berpotensi menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia.
Dengan efisiensi logistik yang semakin baik, pemerintah berharap arus ekspor dari Indonesia Timur tidak lagi bergantung pada pelabuhan besar di Pulau Jawa, sehingga distribusi ekonomi nasional dapat menjadi lebih merata. (*/red)




















