Oleh: Bert Toar Polii
Kota Quanzhou kembali menjadi panggung perpaduan unik antara olahraga dan pariwisata melalui Turnamen Bridge “Jalur Sutra Maritim” ketiga tahun 2026.
Fenomena ini sejalan dengan tren global yang semakin berkembang: sport tourism, di mana kompetisi olahraga dikemas sekaligus sebagai pengalaman wisata budaya.
Indonesia mendapat kehormatan untuk mengirim satu tim undangan yang diperkuat pasangan-pasangan berpengalaman:
Eddy Manoppo / Handojo Susanto,
Bert Toar Polii / Tanudjan Sugiarto,
serta Giovani Watulingas / Didi Andries.
Tim ini akan berlaga dalam dua ajang bergengsi:
• Asia Pairs II (12–13 Mei 2026)
• Turnamen Bridge “Jalur Sutra Maritim” (15–17 Mei 2026)
Kedua event berlangsung di Jinwei Holiday Hotel, kawasan Kota Wisata Penerbangan, Luojiang, Quanzhou, Provinsi Fujian, Tiongkok.
Mereka menyediakan akomodasi gratis karena tim ini diperkuat dua pemain yang pernah meraih medali di Asian Games 2018 dan atau 2024.
Quanzhou: Kota Sejarah Jalur Sutra Maritim
Terletak di pesisir tenggara Tiongkok, Quanzhou bukan sekadar kota biasa. Ia adalah salah satu kota sejarah dan budaya nasional pertama di negara tersebut.
Sejak Dinasti Tang, Quanzhou telah menjadi pelabuhan penting perdagangan internasional. Pada masa Dinasti Song dan Yuan, kota ini bahkan dikenal sebagai “pelabuhan terbesar di Timur”.
Peran strategisnya sebagai titik awal Jalur Sutra Maritim membuat Quanzhou diakui dunia. Pada tahun 2021, kawasan ini resmi ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO dengan tajuk:
“Quanzhou: Emporium of the World in Song-Yuan China.”
Turnamen ini juga menjadi bagian dari perayaan 10 tahun inisiatif “Belt and Road” yang digagas oleh Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dengan tujuan memperkuat pertukaran budaya dan kerja sama antarnegara.
Format Unik dan Nuansa Internasional
Sebanyak 64 tim undangan akan ambil bagian, terdiri dari:
• 21 tim internasional dari negara Jalur Sutra Maritim (termasuk Indonesia)
• Tim dari Hong Kong, Makau, dan Taiwan
• 1 tim diaspora Tionghoa dari Quanzhou
• 20 tim Provinsi Fujian
• 22 tim dari berbagai wilayah Tiongkok
Format kompetisi dirancang khusus untuk mendorong interaksi global. Pada tahap awal, tim internasional akan langsung berhadapan dengan tim lokal Tiongkok—sebuah konsep yang memperkaya pengalaman sekaligus meningkatkan kualitas persaingan.
Bridge Bertemu Wisata Budaya
Tidak hanya bertanding, peserta juga akan diajak menikmati tur budaya ke situs warisan dunia Quanzhou.
Beberapa destinasi menarik antara lain:
• Masjid Qingjing
Salah satu masjid tertua di Tiongkok, mencerminkan jejak kuat pedagang Muslim di Jalur Sutra.
• Gunung Qingyuan
Kawasan alami yang sejuk dan asri, menjadi latar indah bagi kota ini.
• Kampung Bali Nansan
Sebuah kawasan unik dengan arsitektur khas Bali, lengkap dengan candi bentar dan pelinggih.
Kampung ini dihuni oleh warga keturunan Tionghoa asal Bali yang kembali ke Tiongkok pada 1960-an—sebuah jembatan budaya yang menarik antara Indonesia dan Tiongkok.
Cuaca Bersahabat, Atmosfer Ideal
Selama periode turnamen, suhu di Quanzhou tergolong nyaman:
• Siang: 24°C – 29°C
• Malam: 18°C – 23°C
Cuaca cerah diperkirakan pada 17–19 Mei, memberikan kondisi ideal baik untuk pertandingan maupun aktivitas wisata.
Misi Indonesia: Lebih dari Sekadar Bertanding
Keikutsertaan Indonesia dalam ajang ini bukan hanya soal prestasi, tetapi juga bagian dari diplomasi olahraga dan budaya.
Melalui bridge, olahraga intelektual tanpa batas usia dan gender Indonesia kembali menunjukkan eksistensinya di panggung internasional, sekaligus mempererat hubungan dengan negara-negara di jalur sejarah perdagangan dunia.
Turnamen ini menjadi bukti bahwa bridge tidak hanya dimainkan di meja, tetapi juga menjadi jembatan antarbangsa. (**)





















