JAKARTA – PT PLN (Persero) secara tegas menyatakan komitmen untuk memperluas kolaborasi lintas sektor sebagai langkah strategis menyokong kedaulatan nasional melalui penguatan ketahanan energi.
Komitmen ini disampaikan dalam gelaran akbar Electricity Connect 2025: Strengthening Energy Resilience, Powering Sovereignty, yang diadakan oleh Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) bersama Kementerian ESDM dan PLN di Jakarta International Convention Center, belum lama ini.
Momentum tersebut menegaskan posisi krusial PLN dalam memastikan transisi energi berjalan beriringan dengan upaya pemerataan akses listrik, yang menjadi pondasi utama bagi ketahanan dan kedaulatan energi nasional.
Kolaborasi ini melibatkan sektor pemerintah, swasta, hingga masyarakat luas.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menekankan bahwa keberhasilan transisi energi dan penyediaan listrik yang berkelanjutan tidak mungkin dicapai tanpa adanya kerja sama yang solid antar pemangku kepentingan.
“Kami menyediakan energi yang terjangkau untuk menciptakan keberlanjutan jangka panjang, menghapus kemiskinan, menghilangkan kelaparan, memastikan kesejahteraan masyarakat, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi,” ujar Darmawan.
Ia juga menambahkan bahwa transisi energi yang dilakukan PLN bukan sekadar pengembangan pembangkit di masa depan, tetapi juga merupakan upaya strategis untuk mengalihkan sumber energi dari impor menjadi domestik.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan ketahanan energi nasional sejalan dengan Asta Cita yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, menyoroti bahwa penguatan ketahanan energi nasional sangat bergantung pada keberhasilan Indonesia dalam menghadirkan akses listrik yang merata di seluruh wilayah.
Qodari juga memaparkan bahwa sebaran potensi energi di berbagai daerah merupakan modal penting untuk mempercepat pembangunan sistem kelistrikan.
“Kita memahami bahwa sumber energi Indonesia tersebar hingga ke pulau-pulau terpencil. Itulah kekuatan bangsa, meski sebagian daerah penghasil energi masih belum sepenuhnya menikmati listrik secara optimal,” kata Qodari, seraya menegaskan bahwa situasi ini adalah peluang perbaikan yang dapat dipercepat melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Qodari melanjutkan, energi memiliki peran vital dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%, dan pertumbuhan tersebut mustahil dicapai tanpa sistem kelistrikan yang optimal.
“Saat ini berbagai program yang kami kawal bersama dengan Kementerian ESDM meliputi PLTMH, pembangunan PLTS terpadu di desa dan sekolah di wilayah 3T, hingga percepatan pembangkit listrik tenaga sampah atau waste-to-energy,” tutupnya, menegaskan bahwa inisiatif ini bagian dari komitmen menghadirkan energi berkeadilan.
Ajang Electricity Connect 2025, yang menampilkan lebih dari 120 exhibitor dan menghadirkan lebih dari 50 pembicara dari berbagai sektor, dirancang sebagai platform kolaborasi terbesar untuk membahas strategi transisi energi, inovasi teknologi, dan penguatan ketahanan energi nasional. (*/ben)






















