JAKARTA – Tren pemanfaatan energi bersih semakin meningkat seiring pengetahuan dan kesadaran publik yang semakin tinggi akan pentingnya menjaga lingkungan hidup.
PT PLN (Persero) secara agresif mengambil peran sentral dalam transisi energi nasional dengan mempercepat pembangunan pembangkit listrik berbasis energi bersih, energi terbarukan (EBT).
Langkah strategis ini bukan hanya untuk mencapai target net-zero emissions (NZE) Indonesia pada tahun 2060, tetapi juga secara fundamental mengubah lanskap energi domestik dan mendorong gaya hidup yang lebih hijau dan berkelanjutan bagi masyarakat.
PLN pun berkomitmen menyediakan listrik yang ramah lingkungan, memastikan masa depan energi yang stabil, sekaligus mendukung ekosistem baru seperti kendaraan listrik dan pemanfaatan energi bersih di sektor industri dan juga rumah tangga.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt hingga 10 tahun ke depan.
Dari jumlah tersebut, sekitar 76% kapasitas akan berasal dari EBT dan sistem penyimpanan energi. Roadmap dalam RUPTL menjadi sinyal kuat bagi investor bahwa Indonesia menyiapkan fondasi energi yang solid, modern, dan rendah emisi.
Menurut Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN (Persero) Rizal Calvary, PLN berkomitmen untuk memperkuat ketahanan energi sebagai kunci untuk mendorong dan memperkuat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, melalui penyediaan energi yang bersih.
“Energi bersih bagi PLN harga mati. Sebab, potensinya besar. Dan, ketersediaan pasokan batubara semakin menipis. Utamanya kalori midle-hight rangk. Tentu, sambil jalan, kita membangun transmisi dan sistem yang lebih smart dan integrarif ke depan,” kata Rizal Calvary kepada Investor Daily, Kamis (04/12/2025).
Menurut Rizal, dengan mandat besar dalam RUPTL, sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar Indonesia dapat bergerak menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” kata Rizal.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development – Universitas Indonesia (RESSED UI) Ali Ahmudi Achyak mengatakan bahwa apa yang dilakukan PLN menunjukkan konsistensi dalam menjalankan mandat untuk menghadirkan listrik dari EBT sebesar 75℅.
“Itu artinya dalam rangka mendukung transisi energi menuju NZE 2060, PLN sudah memiliki roadmap dan panduan jelas yaitu RUPTL yang sangat berorientasi ke EBT,” katanya.
Menurut dia, PLN juga mulai aktif mengembangkan listrik dari EBT. Beberapa contohnya: PLTS terapung di Cirata, penetapan 52 PLTU untuk co-firing, dan lainnya. “Itu menjadi bukti keseriusan PLN untuk “hijrah” ke energi hijau dan bersih,” ujarnya.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasojo pernah mengunkapkan bahwa PLN membutuhkan investasi sekitar Rp3.000 triliun untuk menjalankan RUPTL 2025-2034, yang menjadi landasan percepatan transisi energi dan kemandirian pasokan listrik nasional.
Sejak digaungkannya komitmen menuju nol emisi oleh pemerintah, masyarakat pun semakin sadar dan ikut berperan aktif dalam mengurangi emisi karbon serta ketergantungan terhadap BBM. Salah satunya dengan menggunakan kendaraan listrik.
Minat masyarakat dan kepemilikan mobil listrik (EV) pun terus bertumbuh. Kementerian Perhubungan mencatat jumlah kendaraan listrik mencapai 274.802. Sepeda motor menjadi kendaraan listrik yang paling banyak digunakan dengan jumlah 196.051 unit.
Sedangkan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebutkan, total penjualan wholesales mobil listrik murni (BEV) hingga September 2025 mencapai 55.225 unit. Angka itu jauh melampaui capaian sepanjang 2024 yang sebanyak 43.188 unit.
PLN memiliki peran krusial sebagai orkestrator ekosistem mobil listrik nasional. Pembangunan infrastruktur Stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) yang dilakukan PLN maupun yang berkolaborasi dengan stakeholder lain mampu mendorong masyarakat untuk melakoni gaya hidup ramah lingkungan.
PLN pun terus menambah jumlah SPKLU untuk mempermudah masyarakat mengakses energi bersih.
Untuk mempermudah masyarakat dalam proses pengisian daya, PLN sudah menyiapkan berbagai tipe SPKLU, mulai dari standard charging hingga ultrafast charging. Infrastruktur ini tidak hanya mendukung mobilitas di perkotaan, tetapi juga perjalanan jarak jauh melalui ketersediaan SPKLU di rest area jalan tol.
Menurut Vice President (VP) Perencanaan dan Strategi Pengembangan Produk Niaga PT PLN (Persero) Rudiana Nurhadian mengungkapkan, hingga akhir 2025, PLN mematok target jumlah SPKLU akan mencapai 5.800 unit di seluruh Indonesia.
“Saat ini kendaraan listrik dan SPKLU sudah tumbuh beriringan, bahkan beberapa wilayah telah memasuki fase pertumbuhan eksponensial,” ungkapnya.
Hingga September 2025 PLN telah membangun 4.272 SPKLU di 2.811 lokasi, serta menyediakan lebih dari 57 ribu layanan home charging di seluruh Indonesia.
Keberadaan SPKLU yang dikembangkan PLN itu, semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pengguna kendaraan listrik.
“Sekarang mengisi daya semakin mudah, plug and play. Saya tak perlu antre di SPBU, karena pengisian daya mobil bisa saya lakukan dari rumah. Atau di SPKLU yang lokasinya semakin banyak,”ungkap Irawan Suherman (45), pemilik mobil listrik, warga Bintaro, Tangerang Selatan saat ditemui Investo Daily di pameran Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) di ICE BSD City, Sabtu (29/11) lalu.
Pameran tersebut menampilkan beragam model mobil dan motor listrik dari berbagai produsen.
Menurut Irawan, mobil listrik produksi pabrikan China yamg dibelinya dua tahun lalu, setiap hari dia gunakan untuk menyokong mobilitasnya dalam bekerja, mengantar anak ke sekolah, hingga bertamasya.
“Konsumsi energi mobil listrik yang saya gunakan sangat hemat. Sekali isi penuh bisa menempuh 400-an kilometer,”katanya.
Dia memaparkan, sejak beralih menggunakan mobil listrik dua tahun lalu, konsumsi energi untuk menunjang mobilitasnya menurun drastis.
Hal itu berimbas pada penurunan biaya energi yang harus dikeluarkan setiap bulan. “Saat menggunakan mobil bensin, biaya BBM per bulan sekitar Rp3 juta. Menggunakan mobil listrik hanya Rp500 ribu saja,”ungkapnya.
Selain karena tarif isi daya per kWh yang sangat murah, Irawan juga memanfaatkan diskon tarif listrik sebesar 30% dari PLN untuk pengguna mobil listrik yang mengisi daya di rumah pada jam tertentu (off-peak hours).
Dengan tarif Rp1.700 per kWh, saat mengisi daya baterai mobil di rumah, Irawan mendapatkan diskon 30% sehingga hanya perlu membayar Rp1.190 per kWh.
Dengan mengisi 40 kWh saat malam hari, Irawan hanya perlu membayar Rp47.600 dari seharusnya Rp68.000.
“Sangat hemat untuk pemakaian harian. Dan yang paling penting garasi mobil saya tak mengeluarkan asap, sehingga kondisi rumah bebas asap dan kualitas udara jauh lebih baik,”paparnya.
Diskon tarif listrik sebesar 30% untuk pengguna mobil listrik yang mengisi daya di rumah saat off peak hours, merupakan bagian dari dukungan PLN terhadap tren gaya hidup ramah lingkungan masyarakat yang berkembang pesat.
Senada dengan Irawan, M. Nauval Ramadan juga merasakan perubahan signifikan saat beralih menggunakan kendaraan listrik. “Dari sisi konsumsi energi, juga dari pengurangan emisi,”tegasnya ditemui di lokasi yang sama.
Dia memberikan contoh, 1 liter bensin setara dengan 1,2 kWh. Dengan menggunakan 1 liter bensin di mobil lamanya, jarak tempuhnya 10 kilometer.
“Artinya setiap kilometer saya mengeluarkan biaya Rp14.800, saat kondisi macet, konsumsi BBM nya semakin boros. Sedangkan untuk mobil listrik, 1 kWh mampu menempuh 9 kilometer, berarti biaya energi saya hanya Rp1.500-an, murah banget kan?,”tegasnya.
Keputusan Nauval untuk beralih menggunakan mobil listrik setelah dia mengetahui konsumsi energi dan dampak emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan dengan kendaraan berbasis BBM.
“Selain menghemat biaya bulanan dan menikmati kenyamanan isi daya dari rumah setiap malam, dengan menggunakan mobil listrik, saya berharap bisa berkontribusi terhadap lingkungan yang lebih bersih,” tutupnya.
Fransiscus Soerjopranoto, Chief Operating Officer (COO) Hyundai Motors Indonesia kepada Investor Daily mengatakan bahwa tren minat masyarakat terhadap mobil listrik hingga saat ini tetap terjaga, apalagi saat ini harganya cukup menarik buat pelanggan di Indonesia.
“Tentu ini kesempatan masyarakat buat dapat mobil yang terjangkau,” katanya.
Menurut dia, pihaknya pernah melakukan survei terkait ketertarikan masyarakat di area Jakarta terhadap mobil listrik. Berbagai faktor yang membuat masyarakat karena terkait aturan ganjil-genap, biaya operasional yang makin murah, dan ketersediaan sumber listrik dari SPKLU yang disediakan baik oleh produsen dan juga PLN.
Fransiscus meyakini dengan dukungan infrastruktur PLN, kesadaran masyarakat untuk menggunakan energi bersih semakin meningkat. Yang pada akhirnya, tak sekadar mengurangi emisi dan menciptakan lingkungan yang bersih, tetapi juga menghadirkan kehidupan yang lebih berkualitas. (*/ben)






















