PLN EPI Percepat Pengembangan Biomassa untuk Transisi Energi Rendah Karbon

35
PT PLN Energi Primer Indonesia dari Kiri Ke Kanan: Country Leader GE Gas Power Indonesia George Djohan (Moderator), Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir, Chairman Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI) Milton Pakpahan dan VP O & M Planning and Control I PLN Indonesia Power Hendra. (ist)

JAKARTA –  PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat komitmen akselerasi transisi energi melalui pengembangan biomassa dan perluasan program cofiring di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Langkah ini menjadi bagian strategi menuju energi rendah karbon dan target Net Zero Emission.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan bahwa saat ini 95 persen biomassa yang digunakan berasal dari limbah agro, residu industri kayu, dan limbah kehutanan.

“Biomassa PLN berbasis limbah. Potensi nasional mencapai 500 juta ton, namun pemanfaatannya baru sekitar lima persen,” ujar Hokkop dalam forum Electricity Connect 2025.

Ia menyebut tantangan pengembangan biomassa tidak hanya terkait kesiapan pembangkit, tetapi juga menyangkut regulasi, infrastruktur, dan model ekosistem rantai pasok yang belum matang.

Hokkop menyatakan bahwa tujuan cofiring bukan sekadar diversifikasi bahan bakar, tetapi mendukung pengurangan emisi karbon.

“Dalam praktik internasional, hal yang pertama dilihat dari cofiring adalah kontribusinya terhadap Net Zero Emission,” tegasnya.

Untuk memperkuat rantai pasok, PLN EPI mengembangkan skema kemitraan dengan sektor swasta, aggregator, hingga koperasi sebagai sub-hub pengumpulan biomassa.

MoU dengan Kementerian Koperasi baru saja ditandatangani untuk memperluas model tersebut.

Hokkop menekankan bahwa kualitas biomassa menentukan performa pembangkit.

“Cofiring harus memastikan karakter biomassa mendekati bahan bakar fosil. Produk yang salah dapat menurunkan performa pembangkit,” jelasnya.

Saat ini, 48 PLTU telah mengimplementasikan cofiring.

Tantangan Logistik dan Distribusi Biomassa
VP Strategi dan Pengembangan Bisnis Biomassa PLN EPI, Anita Puspita Sari, menambahkan bahwa biomassa memiliki potensi emisi yang signifikan, namun ekosistem logistik masih menjadi tantangan terbesar.

“Bahan baku biomassa tersebar di seluruh Indonesia dan tidak terpusat. Ini menimbulkan tantangan logistik yang berbeda dengan batu bara,” jelasnya.

Menurut Anita, tidak semua biomassa dapat langsung digunakan. Biomassa dari limbah kayu dan cangkang sawit dinilai rendah risiko, sementara residu pertanian atau sampah perlu diproses ulang terlebih dahulu.

Strategi Jangka Panjang: Ekosistem, Marketplace, dan Basis Penanaman
PT PLN EPI menyiapkan langkah strategis berkelanjutan, seperti:

Peningkatan kualitas dan teknologi pengolahan biomassa, platform marketplace biomassa, kemitraan rantai pasok nasional, pembangunan model penanaman khusus biomassa untuk menjamin keberlanjutan pasokan

“Ke depan, kita tidak bisa hanya mengandalkan limbah. Basis penanaman tetap diperlukan untuk kestabilan suplai,” ujar Anita. (*/ ben)