MANADO – Pertemuan strategis bertema Strategies for Going Global with Enterprises and Collaborating with Overseas Institutions digelar, Rabu (8/10/2025).
Pertemuan itu sebagai langkah awal memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan industri dalam kancah internasional.
Kegiatan ini dihadiri oleh Staf Khusus Gubernur Sulawesi Utara Bidang Pariwisata, Dr Drevy D Malalantang bersama Wang Li (Ms. Lillian) selaku General Manager All Hotel Conch Group (Indonesia & China) dan Yang Dong (Mr. Oliver) Conch – NDC Resort.
Pertemuan ini menyoroti pentingnya model kerja sama school–enterprise–school, yaitu kolaborasi segitiga antara institusi pendidikan dalam negeri, perusahaan global, dan institusi pendidikan luar negeri.
Model ini disebut sebagai “iron triangle” sinergi yang bertujuan menciptakan sumber daya manusia pariwisata dan budaya yang berdaya saing global.
Dr Drevy Malalantang dalam menegaskan bahwa kerja sama ini selaras dengan visi Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay untuk mendorong digitalisasi, investasi, dan internasionalisasi sektor pariwisata Sulawesi Utara.
“Sulut memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan SDM pariwisata berstandar internasional. Melalui sinergi pendidikan, industri pariwisata, dan jejaring global, kita membuka peluang besar bagi generasi muda Sulut untuk berkiprah di panggung dunia,” ujar Dr Drevy Malalantang.
Sementara itu, pihak Conch Hotel Group berkomitmen memperluas kolaborasi pendidikan dan budaya sebagai bagian dari strategi global perusahaan.
Mereka siap mendukung program implementasi konkret seperti:
1. Pertukaran pelajar dan Dosen internasional untuk memperkenalkan budaya dan pariwisata Tiongkok dan Sulut
2. Workshop dan summer camp bertema budaya, seperti teh China, teknologi digital pariwisata, dan keterampilan pemandu wisata,
3. Pengembangan kurikulum integratif, seperti “Chinese + Hotel Management” dan “Chinese + E-commerce for Tourism”,
4. Pembangunan platform digital lintas negara, serta
5. Standarisasi sertifikasi profesi pariwisata internasional seperti Tea Art Specialist dan Homestay Manager.
Langkah konkret ini diharapkan menjadi dasar pengembangan kolaborasi antara lembaga pendidikan di Indonesia dan luar negeri, didukung oleh sektor industri global.
Pertemuan ini juga membahas peluang pendirian studio budaya teh bersama, penyelenggaraan seminar internasional, hingga inkubasi merek minuman teh yang mengangkat nilai budaya Asia.
Dengan semangat kolaboratif ini, Sulawesi Utara diharapkan menjadi salah satu simpul penting dalam jejaring kerja sama pariwisata, pendidikan, dan budaya di kawasan Asia Pasifik. (*/don)

















