Pelatihan Sadar Wisata Menggali Kearifan Lokal Masyarakat dalam Implementasi Wisata Edukasi Rukun Kerja Mapalus Maleloan Langowan Selatan Minahasa

113
Suasana kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Winebeta, Kecamatan Langowan Selatan, Minahasa, Sulawesi Utara, Jumat 12 September 2025. (ist)

MINAHASA – Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Manado (Polimdo) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Winebeta, Kecamatan Langowan Selatan, Minahasa, Sulawesi Utara, Jumat 12 September 2025.

Kegiatan positif para dosen ini dipimpin Ketua Tim: Dr Yurike Lewan M.Hum bersama para Anggota, Dr Bernadain D Polii MSi, Margaretha Warokka SE MBA, dan Vesty Sambeka S.Pi MSi

Implementasi Program Wisata Edukasi diawali pembukaan resmi Program Wisata Edukasi dengan mengadakan acara pembukaan resmi.

Hadir Pemerintah Kecamatan Langowan selatan, Pemerintah Desa Winebeta dan Masyarakat Rukun Kerja Mapalus Maleloan.

Hadir pula Sekcam langowan Selatan Wilson Welliam Wowiling ST MAP MSi.

Kelompok Masyarakat Rukun Kerja Mapalus Maleloan merupakan kumpulan dari masyarakat yang mengelola lahan pertanian untuk mencukupi kehidupan setiap hari.

Kegiatan rutinitas pertanian ini dalam mengelola lahan dilakukan secara bersama-sama dengan masyarakat lainnya yang biasa disebut Mapalus.

Di Minahasa, kegiatan ini sudah dilakukan sejak dahulu sampai saat, kebiasaan menjadi kebudayaan masyarakat.

Saat ini Masyarakat hanya berfokus saja bagaimana mendapatkan hasil pertanian yang baik tetapi disisi lain apa yang menjadi kearifan lokal masyarakat dapat dijadikan suatu pertunjukan atraksi pariwisata.

Potensi-potensi yang ada dapat dikelola menjadi wisata edukasi sehingga kebudayaan masyarakat dapat dikenal oleh wisatawan dan generasi muda.

Potensi wisata ini dapat membantu perekonomian masyarakat dengan dikelola oleh rukun kerja Mapalus.

Istimewa

Masyarakat pendukung pariwisata dipersiapkan agar sadar terhadap potensi wisata.

Permasalahan mendasar yang dihadapi oleh mitra yakni:

1) Rendahnya kesadaran akan pentingnya pariwisata untuk mendukung perekonomian masyarakat.

2) Masyarakat belum mempunyai pemahaman tentang sadar wisata, desa wisata.

Masyarakat Minahasa memiliki berbagai kearifan lokal dalam bertani yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Melalui identifikasi potensi wisata berbasis kearifan lokal dipilih daerah Langowan Selatan Minahasa yang memiliki keunikan budaya lokal.

Peserta pelatihan masyarakat yang aktif dalam melestarikan budaya lokal yaitu Rukun kerja Mapalus Maleloan.

“Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan sadar wisata kearifan lokal dengan fokus pada penggalian budaya lokal,” kata Yurike Lewan.

Program pelatihan penyusunan wisata edukasi dirancang mencakup materi tentang edukasi penanaman padi, pembuatan saguer, menjadi cap tikus, pengolahan kelapa, kerjasama mapalus, tanam tradisional, dan nilai-nilai budaya lokal serta kegiatan tradisi masyarakat.

Implementasi pelatihan ini masyarakat dapat mengelola potensi wisata yang ada menjadi wisata edukasi program ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan pariwisata berkelanjutan dan pelestarian budaya lokal.

“Pelatihan kepada masyarakat pelatihan kepada masyarakat mengenai sadar wisata, sapta pesona, wisata edukasi dan kearifan lokal,” jelas Yurike yang juga Sekretaris Jurusan Pariwisata itu.

Adapun pendampingan ini menggunakan metode pendekatan ABCD (Asset Based Community Development) yang merupakan metode pendampingan mengutamakan pemanfaatan potensi daerah. (***)