Agresivitas Pada Anak Semakin Marak

209

Oleh: Dr. dr. Theresia Kaunang, SpKJ, Sub. Sp. AR (K)

Agresivitas pada anak dan remaja merupakan fenomena yang berkembang akhir-akhir. Baik anak sebagai pelaku maupun anak sebagai korban. Agresivitas pada anak adalah perilaku yang bertujuan menyakiti orang lain atau merusak objek, baik fisik (memukul, menggigit), maupun secara verbal (mengejek).

Seringkali akibat ketidakmampuan mengekspresikan emosi, stres atau meniru lingkungan. Agresivitas dapat merupakan respons terhadap frustrasi hingga manifestasi patologis, yang bermuara pada kekerasan yang berat.

Dalam psikiatri anak dan remaja, agresivitas dikategorikan sebagai bentuk kedaruratan psikiatrik (kondisi emergensi). Agresivitas dinilai patologis apabila intensitas, frekuensi dan dampaknya melampaui batas perkembangan anak yang normal serta menimbulkan bahaya nyata bagi individu yang lain.

Agresivitas berat pada anak bukanlah perilaku yang muncul secara akut, melainkan hasil interaksi jangka panjang antara faktor biologis, psikologis dan lingkungan sepanjang lintasan perkembangan anak.

Beberapa kasus terpantau di media seperti anak/remaja membunuh ibunya, remaja membunuh kakaknya, anak melakukan kekejaman terhadap temannya disekolah dan berakibat fatal yaitu kematian, bahkan melukai dirinya sendiri (self abuse) bahkan bunuh diri (suicide).

Anak dan remaja tidak bisa mengontrol perilaku dan bicaranya menentang orangtua, menentang guru di sekolah, menentang dan mencari masalah dengan teman atau murid lain yang usianya sebaya atau berbeda sedikit.

Tanda dan bentuk agresivitas berupa perilaku memukul, menendang, mendorong, menggigit, menjambak, merusak mainan bahkan membunuh, merampas, merusak barang; secara verbal dapat berupa membentak, menjerit, memaki, mengejek, menghina, mengancam, berkata kasar.

Agresi relasional dapat berupa menyebarkan gosip, berbohong, mengucilkan teman atau menghasut; semua yang berhubungan dengan merusak hubungan atau reputasi sosial seseorang.

Amarah dan tantrum ditandai dengan ekspresi emosi yang meledak-ledak, menangis, menjerit-jerit, melempar barang atau berguling di lantai saat tidak terpenuhi keinginannya. Menunjukkan permusuhan yang berlebihan yaitu sikap negatif yang menetap, seperti cemburu berlebihan, dendam, atau curiga.

Agresivitas terdiri dari dua yaitu yang bersifat reaktif (respons impulsif terhadap pemicu) atau proaktif (terencana untuk mencapai tujuan tertentu).

Center Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat menegaskan bahwa agresivitas kronis dan konflik interpersonal yang dimulai sejak masa kanak-kanak merupakan faktor risiko utama terjadinya kekerasan fatal, termasuk pembunuhan (homicide), pada usia remaja dan dewasa muda.

Penyebab agresivitas berupa faktor biopsikososial. Agresivitas merupakan akumulasi dari trauma emosional, pengabaian, pola asuh kasar, paparan kekerasan (game/film).

Beberapa faktor risiko perilaku agresivitas adalah trauma atau pengabaian, pengalaman kekerasan fisik, emosional atau seksual membuat anak merasa tidak aman dan cenderung meniru kekerasan tersebut; pola asuh yang tidak tepat/negatif, pola asuh kasar, tidak konsisten dan beberapa jenis pola asuh yang tidak tepat.

Lingkungan keluarga yang tidak harmonis dapat meningkatkan risiko agresivitas; gangguan kesehatan mental/gangguan psikiatrik seperti psikosis, depresi berat, PTSD, gangguan bipolar, ADHD, autisme, gangguan kepribadian, gangguan perilaku (gangguan perilaku menentang dan gangguan perilaku konduksi), gangguan mood.

Gangguan-gangguan ini yang tidak diobati dapat memicu tindakan agresivitas. Selain faktor-faktor yang tersebut diatas, yang dapat menjadi faktor risiko yaitu paparan meliputi menonton film kekerasan, game online yang sarat dengan kekerasan; kurangnya pengendalian impuls, anak dan remaja yang memiliki kontrol impuls buruk cenderung meledak-ledak dan bertindak tanpa berpikir panjang.

Tanda-tanda peringatan dini (red flag) yaitu kejam terhadap hewan atau anak lain, preokupasi pada senjata atau fantasi kekerasan, ledakan kemarahan yang intens dan sulit ditenangkan, isolasi sosial dan menarik diri.

Psikodinamika agresivitas pada anak dan remaja berakar pada frustrasi, ketidakmampuan mengelola emosi atau peniruan (modeling) perilaku di lingkungan, yang bertujuan untuk menyakiti orang lain atau objek.

Albert Bandura mengatakan bahwa perilaku agresivitas dipelajari melalui pengamatan sehingga anak/remaja meniru kekerasan tersebut melalui televisi, game atau lingkungan.

Dinamika agresivitas melibatkan dorongan internal (amarah, masalah mental lainnya) dan faktor eksternal seperti konflik keluarga, tekanan teman sebaya. Perilaku agresif sering muncul sebagai respons terhadap frustrasi ketika keinganan tidak terpenuhi menyebabkan emosi negatif meledak.

Kurangnya ketrampilan regulasi emosi menyebabkan anak/remaja merespons situasi secara agresif baik fisik maupun verbal daripada komunikasi asertif.

Keyakinan yang keliru terhadap agresif yang dianggap sebagai kondisi normal yaitu keyakinan bahwa agresivitas adalah cara wajar untuk mempertahankan diri atau mendapatkan rasa hormat, karena lingkungan yang dia pelajari melakukan hal tersebut sehingga anak mengadopsi cara tersebut.

Lingkungan keluarga dengan pola asuh yang keras, konflik orangtua yang setiap saat dihadapinya, kurangnya perhatian orangtua terhadap anak memicu anak meniru perilaku tersebut.

Dampak agresivitas adalah menimbulkan kerugian fisik dan mental. Menyebabkan anak/remaja sebagai pelaku dijauhi teman atau dikucilkan secara sosial.

Tindakan pencegahan dan penatalaksanaan dapat melibatkan banyak pihak, termasuk dokter psikiater, psikolog, orangtua dan keluarga, guru dan masyarakat sekitar.

Intervensi dini yaitu dengan memberi bantuan profesional (psikiater/psikolog) bahkan melalui pekerja sosial/ kader kesehatan yang sudah dilatih untuk menjemput bola melakukan deteksi dini dan intervensi dini yang sederhana untuk mengawali tatalaksana sebelum dirujuk kepada profesionalnya.

Diperlukan pengawasan time screen, dan pendampingan sangat dibutuhkan untuk mencegah perilaku destruktif. Penanganan memerlukan pendekatan yang berfokus pada manajemen emsoi, perbaikan pola asuh dan intervensi lingkungan untuk memutuskan rantai perilaku tersebut.

Jika anak/remaja membutuhkan obat, maka obat harus diberikan karena terdapat perubahan neurotransmiter yang menyebabkan terjadi atau tercetus perilaku agresivitas tersebut.

Pastikan bahwa melakukan tatalaksana tidak terhambat dan tidak terlambat. Jika terlambat banyak pihak yang bisa dirugikan karena terdampak agresivitas.

Pola asuh orangtua harus dikoreksi, latih anak untuk kelola amarah, pembatasan paparan konten kekerasan (pembatasan penggunaan media). Komunikasi efektif dengan anak, bantu anak untuk mengekspresikan emosi secara tepat.

Perlu dipahami bahwa perilaku agresif yang menetap dan intensif, terutama setelah usia perkembangan bahasa yang normal, memerlukan perhatian serius sebelum berkembang menjadi tindakan kriminal. (***)