Perkembangan Objek Wisata Tuur Ma”asering

63
Istimewa

Penulis: Dr. Seska Mengko, M.Pd

Sulawesi Utara khususnya kota Tomohon memiliki kekayaan alam dan budaya yang melimpah, hal ini dapat mendorong potensi Pariwsata yang besar, salah satunya ialah Tuur Ma’asering.

Tuur Ma’asering merupakan gabungan wisata alam dan Budaya, yang terletak di Kecamatan Tomohon Timur, Kelurahan Kumelembuay.
Tuur Ma’asering dulunya merupakan perkebunan pohon aren yang kemudian dikembangkan menjadi objek wisata berbasis masyarakat.

Tuur Ma’asering dikembangkan sebagai peningkatan ekonomi petani aren dan pelestarian lingkungan, yang kemudian diresmikan pada tahun 2020. Para petani memasok saguer yang menjadi welcome drink, dan dibayar dari sebagian harga tiket masuk para pengunjung.

Tuur Ma’asering juga memproduksi ‘CapTikus,’ yang di tawarkan melalui sampel.
Tuur Ma’asering menawarkan suasana alami yang asri dan sejuk, suasana sejuk ini sendiri berasal dari pepohonan enau.

Selain pemandangan pepohonan enau pada puncak Tuur Ma’asering juga terdapat pemandangan kota Tomohon dan danau Tondano.

Selain keindahaan alam Tuur Ma’asering juga menawarkan budaya khas Minahasa seperti backsound khas minahasa dan iringan lagu Kolintang, kuliner khas minahasa (cucur, onde-onde, nasi goreng cakalang dan masih banyak lagi), Atraksi pembuatan cap tikus, welcome drink “saguer,” dan spot-spot foto instragam able.

Tuur Maasering juga dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas berupa pondok-pondok yang terbuat dari batang pohon, bambu dan beratapkan daun; Toilet; café; tempat cuci tangan; dan tempat sampah.

Namun sayangnya terdapat beberapa fasilitas penunjang yang mulai rusak berupa bambu yang mulai lapuk, tempat terbengkalai pada bagian kiri, dan lahan parkir yang sempit serta akses jalan yang kecil.

Jumlah pengunjung di Tuur Maasering berkisar 100-150 orang pada hari biasa, dan 200-300 pada akhir pekan, dan pada saat hari libur jumlah kunjungan bisa lebih banyak lagi.
Sejak di buka harga tiket masuk Tuur Maasering adalah Rp15.000/orang, tiket masuk bisa ditukarkan dengan welcome drink “saguer.”

Menurut KBBI, Pariwisata adalah kegiatan yang berhubungan dengan perjalanan rekreasi.”
Kemudian menurut “UU Republik Indonesia No. 9 Thn 1990 Tentang Kepariwisataan, Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan perjalanan yang dilakukan secara sukarela dan bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata, serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut.

Sedangkan menurut “Pitana dan Gyatri (2005), Pariwisata adalah kegiatan perpindahan orang untuk sementara waktu ke destinasi di luar tempat tinggal dan tempat bekerjanya dan melaksanakan kegiatan selama di destinasi dan juga penyiapan-penyiapan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Ke-tiga teori ini menjelaskan bahwa Pariwisata merupakan kegiatan yang dilakukan diluar ruang lingkup kegiatan sehari-hari, yang dilakukan untuk menikamati objek dan fasilitas yang bersifat sementara.
Teori-teori ini memberikan landasan untuk memahami apa itu Pariwisata yang nantinya akan mendukung pemahaman dalam penyelesaian Rumusan masalah.

Objek Wisata
Menurut “Wikipedia Objek wisata adalah suatu tempat menarik yang dikunjungi wisatawan , biasanya karena nilai alamiah atau budaya yang melekat atau yang dipamerkan, makna sejarah, keindahan alam atau bangunan, serta menawarkan waktu luang dan hiburan.”

Teori tersebut menjelaskan bahwa Objek wisata merupakan tempat tujuan yang memiliki nilai dan daya tarik bagi para wisatawan untuk berwisata.

Teori ini memberikan penjelasan untuk mengetahui apa yang menjadi nilai dan daya tarik di Tuur Ma’asering, yang membuat para wisatawan datang berkunjung.

Tuur Ma’asering, sebuah destinasi wisata unik, berlokasi strategis di Kumelembuay, Kecamatan Tomohon Timur, Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Objek wisata ini secara harmonis memadukan konsep wisata alam, wisata buatan, dan elemen budaya Minahasa yang kental, semuanya dibalut dalam suasana kafe yang menawan.

Sebelum bertransformasi menjadi objek wisata, Tuur Ma’asering merupakan area perkebunan pohon aren. Transformasi ini dimulai dengan visi untuk meningkatkan ekonomi petani aren lokal dan melestarikan lingkungan.

Diresmikan pada tahun 2020, Tuur Ma’asering sejak awal pengembangannya telah mengusung konsep wisata berbasis masyarakat.
Komitmen terhadap peningkatan ekonomi petani aren ini diwujudkan secara nyata melalui penyediaan welcome drink berupa saguer yang dipasok langsung oleh petani lokal.

Pembayaran untuk pasokan ini diambil dari sebagian harga tiket masuk pengunjung, menciptakan simbiosis mutualisme yang menguntungkan.

Tuur Ma’asering menawarkan pengalaman kafe yang unik dengan konsep hutan aren. Suasana sejuk yang dihasilkan dari rimbunnya pepohonan aren menjadi daya tarik utama bagi pengunjung yang mencari ketenangan dan kesejukan alam.

Selain pemandangan pepohonan enau yang mendominasi, dari puncak Tuur Ma’asering pengunjung juga dapat menikmati panorama Kota Manado dan Danau Tondano, menambah keindahan lanskap yang disajikan.

Lebih dari sekadar keindahan alam, Tuur Ma’asering juga menyajikan pengalaman budaya Minahasa yang otentik. Pengunjung akan dimanjakan dengan alunan backsound khas Minahasa dan iringan lagu kolintang yang menenangkan.

Pengalaman kuliner juga menjadi sorotan, dengan hidangan khas Minahasa seperti kue cucur, onde-onde, dan nasi goreng cakalang. Sebagai bagian dari pengalaman budaya, pengunjung dapat mencicipi minuman khas Minahasa, “saguer,” sebagai welcome drink, dan bahkan menemukan sampel minuman “cap tikus” yang diperjualbelikan, menawarkan eksplorasi lebih dalam terhadap warisan kuliner lokal.

Fasilitas Pendukung dan Tantangan

Untuk menunjang kenyamanan pengunjung, Tuur Ma’asering dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Fasilitas utama meliputi pondok-pondok yang dibangun dari batang pohon, bambu, dan beratap daun, menciptakan nuansa alami dan tradisional.
Selain itu, tersedia juga toilet, kafe, tempat cuci tangan, dan tempat sampah untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan.

Dinamika Kunjungan Wisatawan

Sejak awal pembukaannya, Tuur Ma’asering telah menarik perhatian publik dan sempat mengalami masa “viral,” yang berdampak pada jumlah kunjungan yang sangat tinggi di periode awal.

Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah pengunjung yang datang tidak lagi sebanyak pada masa pembukaan puncak. Meskipun demikian, Tuur Ma’asering berhasil mempertahankan tingkat kunjungan yang stabil dan relatif tinggi.

Hal ini disebabkan oleh karakteristik unik yang membedakannya dari objek wisata lain, yaitu keberadaan tempat penyulingan aren. Daya tarik ini tidak hanya memikat wisatawan domestik, tetapi juga berhasil menarik minat wisatawan mancanegara yang mencari pengalaman otentik.

Keunikan Tuur Ma’asering terletak pada kemampuannya untuk mengangkat budaya dan kearifan lokal masyarakat Minahasa sebagai daya tarik utama. Integrasi elemen budaya ini, seperti disebutkan sebelumnya dengan konsep kafe berlatar hutan aren, backsound musik Minahasa, kolintang, serta kuliner dan minuman khas, menciptakan identitas yang kuat dan otentik.

Karakteristik inilah yang menjadi magnet bagi wisatawan, membuat Tuur Ma’asering tetap relevan dan diminati meskipun euforia awal pembukaan telah mereda.

Statistik Jumlah Pengunjung

Analisis data kunjungan menunjukkan bahwa Tuur Ma’asering memiliki pola kunjungan yang konsisten. Pada hari biasa (Senin-Jumat), jumlah pengunjung berkisar antara 100 hingga 150 orang. Angka ini menunjukkan adanya basis pengunjung reguler yang tertarik dengan suasana dan penawaran yang ada.

Peningkatan signifikan terlihat pada akhir pekan (Sabtu-Minggu), di mana jumlah pengunjung melonjak menjadi antara 200 hingga 300 orang. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa Tuur Ma’asering menjadi pilihan favorit bagi masyarakat untuk menghabiskan waktu luang di akhir pekan.

Puncak kunjungan terjadi pada saat hari libur nasional atau cuti bersama, di mana jumlah kunjungan dapat lebih banyak lagi dari rata-rata akhir pekan. Pola ini mengonfirmasi bahwa Tuur Ma’asering adalah destinasi yang menarik bagi keluarga dan kelompok yang mencari tempat rekreasi selama periode liburan.

Data kunjungan ini memperkuat argumen bahwa Tuur Ma’asering, meskipun tidak lagi dalam fase “viral” seperti awal pembukaan, tetap merupakan objek wisata yang diminati dan memiliki daya tarik berkelanjutan, khususnya berkat karakteristiknya yang unik dan autentik.

Kesimpulannya, Tuur Ma’asering adalah objek wisata unik di Tomohon yang menggabungkan alam, buatan, dan budaya Minahasa dalam konsep kafe.

Dimulai dari perkebunan aren, tempat ini berfokus pada pemberdayaan petani lokal dan pelestarian lingkungan. Daya tariknya terletak pada hutan aren yang sejuk, pemandangan indah, dan pengalaman budaya otentik (musik, kuliner, saguer, cap tikus).

Meskipun masa “viral” awal telah lewat, Tuur Ma’asering tetap diminati dengan 100-150 pengunjung harian dan 200-300 pada akhir pekan, berkat keunikan penyulingan aren dan kearifan lokalnya, angka-angka ini menegaskan relevansi dan daya tarik berkelanjutan objek wisata ini.

Namun, fasilitas yang rusak, area terbengkalai, serta lahan parkir dan akses jalan yang terbatas menjadi tantangan utama yang perlu segera ditangani. (***)