Komunitas Dinding Manado Pelajari Sejarah Tuanku Imam Bonjol

167
Saat siswa-siswi Dinding Manado belajar sejarah Pahlawan Tuanku Imam Bonjol di Desa Lotta, Kecamatan Pineleng 1, Minahasa. (Foto: istimewa)

MINAHASA – Sri Monalisa Tangkudung (12) terlihat bahagia mendengarkan penjelasan  tentang Tuanku Imam Bonjol yang disampaikan langsung oleh Nurdin Popa (62).

Popa merupakan keturunan ke 5 dari pengawal pahlawan nasional yang berasal dari Sumatera Barat ini. Bahkan, Sri seperti anak-anak Dinding lainnya, mengangkat tangan untuk bertanya seputar sepak terjang dari pahlawan bernama lengkap Muhammad Shahab ini.

Pagi itu, suara air mengalir menambah semangat penjelasan Nurdin kepada anak – anak, para mentor dan pengurus Dinding Manado.

Sambil melantai di Musholah Imam Bonjol, Desa Lotta Pineleng, Minahasa, Sulut, Sabtu (2/12/2023), Nurdin menceritakan bahwa Tuanku Imam Bonjol sangat sulit untuk dibunuh oleh kolonial Belanda pada zaman penjajahan.

“Namun dengan kepintaran Belanda saat itu, mereka membuat sayembara di Perkampungan Bonjol, dimana ketika Tuanku Imam Bonjol tidak menyerahkan diri maka kampung Bonjol akan dibantai beserta keluarga-keluarganya. Maka dari itu, Imam Bonjol keluar dari hutan dan kemudian ditangkap”.

“Setelah ditangkap, Belanda mencari lokasi agar bisa membuangnya. Jika saat itu ia dibuang ke Jawa, Gorontalo, atau Makasar pasti akan mendapatkan dukungan dan membuat pemberontakan di sana. Dan akhirnya tahun 1841 Belanda memilih  suatu tempat di daerah yang paling terpencil, yaitu Desa Lotta, Kabupaten Minahasa,” ungkapnya.

Menurut Nurdin, ulama besar Minangkabau itu dibuang bersama pengawal setianya Apolos Minggu di desa yang tidak adanya agama islam. Dan sengaja diasingkan di sini agar tidak bisa melakukan perlawanan.

“Tapi dengan hadirnya Tuanku Imam Bonjol akhirnya ada islam di sini. Di samping beliau dakwah, Apolos Minggu pengawalnya itu menikah dengan gadis Minahasa bernama Mency Parengkuan, dimana nenek saya itu dari agama kristen masuk islam. Maka dari situ, kerukunan umat beragama di sini sangat baik,” tuturnya.

“Pada zaman Tuanku Imam Bonjol akhirnya banyak muslim di Desa Lotta ini, tapi setelah beliau meninggal pada 6 November 1864,  kampung ini terkena penyakit malaria. Jadi sebagian penduduk di sini pindah kesatu tempat dan membuat satu perkampungan dengan  nama  Pineleng, yang artinya kampung pilihan setelah penyakit wabah itu,” ucapnya.

Saat ini, kata Nurdin, umat muslim di Desa Lotta sebanyak 60 kepala Keluarga (KK) dan sampai saat ini hidup rukun dan damai.

Kembali ke cerita saat diasingkan, dimana Masjid dan Musholah saat itu tidak ada dan Tuanku Imam Bonjol memilih satu tempat untuk dijadikan tempat sholat, yaitu salah satu yang keberadaannya di Sungai Desa Lotta.

“Batu yang dijadikan tempat sholat itu tadinya berada di tengah sungai ini, namun  tanggal 13 Februari 2006 selesai sholat maghrib terjadi banjir besar. Jadi batu ini dibawah banjir dan menghantam bangunan pabrik miras sampai hancur. Setelah kejadian itu, kami mencoba memindahkan batu itu menggunakan 2 takel namun tidak  bisa diangkat, kemudian memanggil para orang tua untuk membacakan doa dan alhamdulillah dengan satu takel bisa dipindahkan batunya,” kata Nurdin sembari tersenyum.

Dia menambahkan bahwa pada batu itu ada bekas Tuanku Imam Bonjol saat sujud, testanya, 2 lututnya, dan bekas ia duduk saat zikir.

Setelah mendengar sejarah Tuanku Imam Bonjol, Ketua Komunitas Dinding Manado, Meikel Pontolondo, meresponnya dengan mengucapkan terimakasih kepada penjaga sekaligus perawat makam Tuanku Imam Bonjol, yakni Nurdin Popa.

Pengetahuan yang sudah diberikan kepada puluhan anak-anak binaan Komunitas Dinding Manado menjadi bekal berharga bagi anak-anak ke depannya.

Dia juga mendoakan Nurdin bersama keluarga agar selalu diberikan kesehatan dan keberkahan.

Terpantau media ini, puluhan anak-anak juga melihat batu yang menjadi tempat sholat Tuanku Imam Bonjol bahkan mendoakan saat mengunjungi makamnya. (*/don)