MANADO – Akademisi Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Unsrat, Dr Herry Pinatik menanggapi hasil sensus tercatat komposisi petani di Sulawesi Utara yang hanya didominasi Generasi X berusia 43-58 tahun.
Dari total 257.186 petani di Sulut, 45,25 persen generasi X.
Secara umum BPS Sulut mencatat komposisi dan jumlah petani di Sulut menunjukkan penurunan dibandingkan sensus 2013.
Dominannya petani berusia 40 tahun ke atas menandakan kurangnya minat generasi muda turun ke sawah, perkebunan dan peternakan.
“Ini juga terlihat dari gencarnya program marijo bakobong, tetapi tidak secara masif dikerjakan oleh dinas terkait,” ujar Pinatik, Sabtu (9/12/2023).
Tak heran, produksi beberapa komoditi unggulan tidak signifikan. Dibuktikan area pembudidayaan pertanian yang dikerjakan petani semestinya dimaksimalkan.
Solusinya, menurut Pinatik, Gubernur dan Wakil Gubernur OD-SK dengan sisa periode 1 tahun terakhir ini lebih menggerakkan dinas terkait seperti pertanian, perkebunan bersama balai-balai teknis kementerian pertanian di Sulut.
“BSIP Palma Mapanget dapat mempersiapkan benih unggulan kelapa dan palma, untuk secara masif di hasilkan bibit kelapa. Kemudian Pemprov Sulut memfasilitasi mendistribusikan kepada petani di desa-desa. Begitu juga komoditi unggulan Sulut lain seperti pala, cengkih, vanilla dan lainnya,” ujar Herry.
Lanjut Herry, inovasi kebijakan yang sudah dilontarkan OD SK tapi di tataran teknis implementasi belum maksimal menjawab harapan masyarakat.
“Kedepan perlunya dikembangkan pertanian presisi, Smart Farming atau pertanian pintar yaitu pengelolaan pertanian dengan pendekatan revolusi industri 4.0, yaitu mengkolaborasikan segenap potensi dari hulu ke hilir dengan memanfaatkan IoT,” kata peraih lulusan terbaik S3/ Doktor Ilmu Pertanian Bidang Agroindustri dan System, Universitas Udayana Bali itu. (don)






















