Psikologi Uang di Era Digital: Bedanya FOMO dan Mind Over Money

41

Oleh: Psikolog Hanna Nina Ireine Monareh, M.Psi., Psikolog, CHt, CI.

MANADO – Di era media sosial, perilaku boros sering kali bukan karena kurang uang, tapi karena takut ketinggalan. Fenomena ini dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out).

Lawannya adalah MOM (Mind Over Money), yakni kemampuan mengendalikan uang dengan kesadaran penuh.

Lantas, apa beda keduanya dari sisi psikologis?

Akar Masalah FOMO: Gangguan Pengaturan Emosi

Berdasarkan infografis Perspektif Psikologis MOM vs FOMO, perilaku FOMO dipicu oleh ancaman sosial digital (digital social threat).

Seseorang merasa takut ditolak (fear of rejection) jika tidak mengikuti tren yang ada di media sosial.

Kondisi ini melahirkan kebutuhan validasi instan dan rasa rendah diri (low self-esteem). Banyak orang percaya pada kehidupan ideal yang dilihat di Instagram atau TikTok, padahal itu adalah persepsi sosial palsu (false social perception).

Akibatnya, otak mencari kesenangan instan (instant pleasure seeking) dan gagal mengendalikan impuls.

Ujungnya adalah keranjang belanja penuh barang FOMO dan kartu kredit yang jebol. Inilah siklus psikologi uang yang dimulai dari ketakutan.

Solusi MOM: Fungsi Eksekutif Kognitif yang Kuat

Berbeda dengan FOMO, Mind Over Money (MOM) berakar pada fungsi eksekutif kognitif yang kuat. Intinya adalah pengendalian kognitif (cognitive control).

MOM ditopang oleh empat pilar utama:

1. Pengendalian Kesadaran Saat Ini (Present-Moment Awareness): Mampu fokus pada apa yang sedang dibutuhkan, bukan yang sedang viral.

2. Pengembangan Diri (High Emotional Intelligence): Memiliki kecerdasan emosional tinggi sehingga tidak mudah iri atau cemas melihat pencapaian orang lain.

3. Kesadaran Sadar (Mindfulness): Sadar penuh sebelum melakukan transaksi.

4. Nilai Pribadi yang Jelas (Future Orientation): Punya tujuan finansial jangka panjang yang jelas, sehingga tahu mana kebutuhan dan mana keinginan.

Hasil dari MOM adalah financial clarity atau kejelasan finansial. Belanja menjadi lebih sadar, seperti keranjang MOM yang berisi kebutuhan pokok, bukan barang hype, dan grafik keuangan pun perlahan naik.

Singkatnya, FOMO membuat kita dikendalikan oleh algoritma media sosial, sementara MOM membuat kita mengendalikan algoritma tersebut dengan otak yang sadar. (**)