Selamat Jalan Michael Bambang Hartono, Sahabat, Partner dan “Pengorbanan Sunyi” untuk Bridge Indonesia

83
Ist

Oleh: Bert Toar Polii

Kabar itu datang dari Singapura, sederhana namun menghantam begitu dalam. Michael Bambang Hartono telah berpulang pada pukul 13.15 waktu Singapura.

Bagi banyak orang, beliau adalah salah satu orang terkaya di Indonesia.

Namun bagi saya dan bagi dunia bridge Indonesia, ia adalah sesuatu yang jauh lebih berarti: sahabat, partner, mentor, dan pejuang sunyi.

Puluhan tahun Michael Bambang Hartono, atau yang akrab kami panggil Bambang, mengabdikan diri pada olahraga bridge tanpa gemuruh, tanpa sorotan bahkan tanpa keinginan untuk dikenal.

Ia mencintai bridge sejak usia 6 tahun.
Kecintaan yang tidak pernah padam hingga akhir hayatnya.

Dari kecintaan itulah lahir Djarum Bridge Club, sebuah rumah bagi banyak pemain yang kini menjadi tulang punggung tim nasional.

Dari sana pula bergulir Djarum Cup, turnamen internasional yang membawa nama Indonesia ke panggung bridge dunia.

Ia juga menjadi penopang bagi organisasi bridge nasional. Namun, bagi Bambang, memberi bukanlah sesuatu yang perlu diumumkan.

Banyak orang mungkin mengira bahwa pengorbanannya adalah soal materi.

Bagi saya, bukan itu. Pengorbanan terbesar Bambang adalah ketika ia bersedia keluar dari bayangannya sendiri menjadi figur publik demi bridge Indonesia.

Itu bukan dirinya. Saya masih ingat di Lyon, Perancis, tahun 2017. Saat kami bermain di World Team Bridge Championship, saya sempat memuat fotonya di Facebook. Ia menegur saya.

“Saya tidak ingin dikenal. Privasi itu penting,” katanya.

Dan itu bukan sekadar ucapan. Selama puluhan tahun, ia hidup sederhana.

Kami pernah makan berdiri di food court Lucky Plaza, Singapura, karena tempat penuh.
Ia santai. Saya yang gelisah, takut ada yang mengenali dan memotret.

Namun semua berubah saat Asian Games 2018. Ia menjadi sorotan dunia: atlet tertua, sekaligus terkaya.

Namanya viral di mana-mana. Dan ia menerimanya. Bukan untuk dirinya.
Tetapi untuk bridge.

Saya mengenal Bambang sejak awal 1980-an.
Kami sudah satu tim sejak 1985, mewakili Djarum Bridge Club di ASEAN Bridge Club Championships.

Sebagai partner, saya menyaksikan sisi lain yang jarang diketahui: ketenangannya, kecerdasannya, dan juga sisi manusianya yang hangat.

Saya masih ingat satu kejadian di Atlanta, 2018. Sore sebelum pertandingan, kami menikmati wine sambil berbincang.

Tanpa sadar, waktu berjalan cepat.
Saat pertandingan dimulai, ia mengantuk di meja. Saya dan bahkan lawan harus membangunkannya saat giliran bermain.

Dan semua hanya tersenyum maklum.
Karena mereka tahu: mereka sedang bermain dengan seorang legenda.

Kini, partner saya itu telah pergi.
Namun jejaknya tidak akan pernah hilang.
Ia tidak hanya membangun klub.

Ia membangun generasi.
Ia tidak hanya mendukung bridge.
Ia mengangkat martabatnya.

Dan yang paling penting  ia melakukannya tanpa pernah meminta tepuk tangan.

Selamat jalan, Bambang.
Terima kasih untuk semua yang telah Anda berikan untuk bridge Indonesia, dan untuk saya pribadi.

Di setiap kartu yang terbuka di meja bridge, di setiap keputusan berani, dan di setiap kemenangan yang lahir dari pemahaman Anda akan selalu ada. (***)