Sempat 3 Kali Mati Suri, Mujizat Terjadi bagi Yehezkiel Setelah di Diagnosa Terkena Anemia Aplastik

1181
Pasien Yehezkiel didampingi Ibunya Silvana Koraag. (foto ben)

MANADO – Anemia aplastik merupakan penyakit autoimun yang langka, di mana penderitanya akan mengalami kekurangan darah.

Penyakit ini cukup berbahaya karena sumsum tulang tidak dapat memproduksi sel darah merah.

Saat sumsum tulang tidak dapat memproduksi sel darah merah, tubuh manusia pun tidak dapat berfungsi secara normal.

Perkembangan penyakit ini pada setiap orang berbeda-beda. Ada yang berkembang secara cepat dan ada pula yang berkembang secara lambat.

Anemia aplastik merupakan kondisi dimana sumsum tulang belakang berhenti memproduksi sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh.

Bahkan, anemia jenis ini mampu memberhentikan produksi sel darah putih dan trombosit.

Anemia aplastik tidaklah sama dengan anemia yang sering terjadi pada umumnya, yaitu anemia hemolitik. Anemia hemolitik adalah kondisi kurang darah yang disebabkan oleh kurangnya zat besi.

Seperti yang dialami Yehezkiel yang berumur 7 tahun saat di diagnosa terkena penyakit Anemia aplastik bulan September 2023.

Seperti yang diceritakan Silvana Koraag ibu dari Yehezkiel kepada arenapost.id, di ruang pusat kanker anak Estella, RSUP Kandou, Kamis (28/8).

Awalnya Yehezkiel dirawat dirumah sakit Bhayangkara.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan, anak saya di diagnosa terkena penyakit Anemia aplastik.

Tentu saja saya kaget, karna saya melihat anak saya dalam kondisi sehat.

Pada bulan Desember kondisinya sempat drop dan muntah – muntah bahkan hilang kesadaran.

Bahkan ia sempat mengalami mati suri tiga kali, namun mujizat dari Tuhan, Yehezkiel masih hidup sampai sekarang.

Semua karna doa, dan campur dari Tuhan, tanpa itu memang mustahil, ini mukjizat dan juga tentu ketekunan dalam menjalani perawatan secara intensif di pusat kanker Estella anak RSUP Kandou dan tekad untuk sembuh juga sangat diperlukan, karna hati yang gembira adalah obat yang mujarab. Saat ini kiel lagi butuh donasi untuk pengiriman gen ke jerman,”ujar Koraag.

Meski saat ini ia masih terus menanti adanya pendonor yang mendonorkan sel punca (dari sumsum tulang atau darah tepi) untuk anaknya.

Satu hal yang membuat ia merasa kuat karna mendapat dukungan moril dari para perawat di pusat kanker Estella RSUP Kandou yang di Koordinir Ns Konda Tawalujan SKM SKep Mkes. Ini tentu memberikan suatu kekuatan baginya.

Gejala yang dialami oleh penderita anemia aplastik dengan anemia hemolitik hampir serupa, yaitu mudah lemas dan lesu.

Akan tetapi, penderita anemia aplastik lebih sensitif terhadap imunitas dan infeksi. Dengan begitu, penderitanya mudah terkena luka, pendarahan, mimisan, gusi berdarah, dan memar tanpa alasan yang jelas.

Siapa saja bisa terkena anemia aplastik, baik anak maupun dewasa, laki-laki atau perempuan. (ben)