MINAHASA – Cuaca buruk sepekan terakhir di Kota Manado dan sekitar membuat hasil tangkapan ikan cakalang yang baru saja mendarat belum terjual.
Harga ikan yang melonjak naik mempengaruhi daya beli masyarakat
Namun para nelayan sumringah tak menyangka gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus yang tiba. – tiba datang menghampiri, Rabu (2/4/2025).
Jenderal Yulius dikawal para ajudan muncul di antara tumpukan ikan segar yang masih merah di insangnya.
Bagi nelayan Tanawangko, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa, ini adalah pertemuan pertama mereka dengan sang pemimpin provinsi.
“Gubernur orang baik. Baru ini ketemu langsung, bisa jabat tangan,” ucap seorang nelayan.
Tanpa banyak bicara, gubernur menyapu pandangannya ke tumpukan ikan cakalang yang baru saja mendarat.
“Mau diborong ini,” ujarnya tegas, disambut decak kagum nelayan.
Seorang nelayan memberanikan diri menyebut angka “Dua juta ini, Pak. Mau dibagi-bagi sama nelayan.”
Gubernur tak ragu untuk memborong.
“Yah sudah, nggak apa-apa. Dua juta nanti dibayar,” jawabnya, seolah dua juta itu bukan sekadar angka, tapi sebuah janji untuk meringankan beban.
Nelayan-nelayan itu pun tersenyum sumringah, tetapi ada yang diam-diam mengusap air mata.
Bagi mereka, ini bukan sekadar transaksi.
Ini pengakuan bahwa jerih payah mereka dilihat oleh orang nomor satu di Bumi Nyiur Melambai.
Gubernur tak hanya membeli, ia menyentuh insang ikan, memastikan kesegarannya dan bertanya detail tentang kondisi hasil tangkapan.
“Baru ini, Yah?” tanyanya.
“Iya, Pak, masih merah-merah,” jawab nelayan sambil menunjukkan insang yang masih berwarna cerah, simbol ikan yang baru saja direngkuh dari laut.
Dialog sederhana itu, bagi warga, adalah bukti bahwa pemimpin mereka peduli hingga ke hal paling kecil.
Di balik angka dua juta rupiah, ada kisah yang lebih dalam.
Nelayan Tanawangko selama ini bergulat dengan ketidakpastian harga dan pasar.
Hasil tangkapan seringkali tak sebanding dengan peluh yang mereka kucurkan.
Kehadiran gubernur bukan hanya tentang pembelian spontan, tapi tentang pengakuan bahwa setiap tetes keringat mereka berharga.
“Belum pernah ada Gubernur yang mau datang untuk bertemu nelayan. Tapi hari ini, Gubernur datang sendiri, lihat kami, dan bantu langsung. Ini seperti mimpi,” ungkap nelayan yang telah 20 tahun melaut.
Gubernur mengatakan ini bukan yang terakhir, namun akan terus dukung nelayan, karena nelayan adalah pahlawan pangan.
Uang Dua juta rupiah mungkin tak seberapa bagi sebagian orang, tapi bagi warga Tanawangko, ini bukti bahwa pemimpin bisa hadir di saat mereka paling membutuhkan. (*/ben)






















