Pemikiran HN Sumual Tentang Seho

123
Ist

Oleh: Bert Toar Polii

Almarhum H.N. Sumual, atau yang akrab dipanggil Om Ventje, selama hampir lima belas tahun tanpa lelah mengkampanyekan sebuah sistem pembangunan ekonomi yang melibatkan rakyat banyak sekaligus menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Gagasan ini baru mulai mendapat perhatian pemerintah beberapa tahun terakhir.

Mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Theo Sambuaga waktu itu pernah mengatakan Om Ventje selalu mendorong masyarakat untuk menanam pohon seho atau aren.

Dari pohon ini dapat dihasilkan bahan bakar alternatif berupa bioethanol.

Beliau sudah menganjurkan ini lebih dari 15 tahun lalu, sementara pemerintah baru mulai mendorongnya sekitar lima tahun terakhir.

Pemikiran ini menunjukkan betapa jauh ke depan visi yang dimiliki oleh Om Ventje.

Pembangunan yang Melibatkan Rakyat

Menurut almarhum, sistem pembangunan ekonomi harus mengutamakan program-program yang melibatkan sebanyak mungkin warga masyarakat dan sekaligus bersifat sustainable atau berkelanjutan.

Pembangunan berkelanjutan berarti selalu menjaga daya dukung lingkungan alam, baik untuk kehidupan manusia maupun sebagai penyedia bahan baku bagi aktivitas produksi.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, Om Ventje secara konsisten mengkampanyekan gerakan penanaman pohon seho (aren) secara massal.

Menurut beliau, gerakan ini sekaligus menjawab beberapa persoalan besar bangsa Indonesia.

Setidaknya ada tiga manfaat besar dari penanaman pohon seho.

Manfaat Pertama
Seho sebagai Sumber Energi

Nira pohon seho atau saguer dapat diolah menjadi ethanol, yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif.
Bayangkan jika bangsa Indonesia menjadi produsen besar bahan bakar dari sumber hayati.

Menurut perhitungan Om Ventje, jika di wilayah Minahasa saja terdapat 100.000 hektar lahan yang ditanami seho, maka dapat dihasilkan sekitar 1 juta barel ethanol per hari.

Jika seluruh rakyat Indonesia menanam sekitar 5 miliar pohon seho, atau rata-rata 25 pohon per orang, maka produksi ethanol bisa mencapai sekitar 60 juta barel per hari, jumlah yang setara dengan produksi minyak dunia saat ini.

Minimal, Indonesia tidak perlu lagi mengimpor BBM, dan rakyat tidak perlu menderita setiap terjadi fluktuasi harga minyak di pasar internasional.

Selain itu, minyak bumi adalah sumber energi non-renewable, yang suatu saat pasti akan habis karena berasal dari fosil.

Sebaliknya, pohon seho adalah sumber energi renewable, yang dapat terus ditanam kembali.
Lebih jauh lagi, saguer juga memiliki potensi sebagai sumber hidrogen, yang di masa depan diperkirakan akan menjadi salah satu energi utama dunia.

Manfaat Kedua
Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat

Produksi ethanol dari pohon seho secara langsung melibatkan rakyat dalam berbagai tahapan kegiatan, mulai dari:
• pembibitan
• penanaman
• perawatan
• penyadapan nira
• hingga pengolahan

Perusahaan minyak besar sekalipun tidak dapat menggantikan peran masyarakat dalam proses penyadapan nira.

Karena itu, sistem ekonomi berbasis seho pada dasarnya adalah ekonomi rakyat.
Bahkan menurut perhitungan sederhana, seorang pemilik 1 hektar kebun seho dapat memperoleh keuntungan bersih hingga sekitar Rp1 juta per hari.

Dengan demikian, pengembangan seho dapat menjadi solusi bagi masalah pengangguran, sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat secara signifikan.

Berbeda dengan sistem pertanian monokultur seperti cengkeh atau jagung yang sangat tergantung pada harga pasar, tanaman seho memungkinkan sistem tumpang sari.

Di antara pohon seho masih dapat ditanam:
• cabai
• sayuran
• jagung
• padi ladang
• bahkan cengkeh

Tanaman-tanaman tersebut dapat memberikan penghasilan sebelum pohon seho mulai berproduksi.

Selain ethanol, pohon seho juga menghasilkan berbagai produk lain seperti:
• gula aren
• alkohol industri
• tepung aren
• ijuk
• bahkan kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas.

Manfaat Ketiga
Pelestarian Lingkungan Hidup

Pohon seho juga memiliki manfaat besar bagi lingkungan hidup.

Tanaman ini sangat efektif untuk membentuk kawasan resapan air (catchment area) yang dapat mencegah erosi dan mengurangi risiko banjir.

Dengan terbentuknya kawasan resapan air yang baik, ketersediaan air bersih bagi masyarakat dan sistem irigasi pertanian akan lebih terjamin.

Sebagai contoh, jika kawasan resapan di sekitar Danau Tondano dapat terjaga dengan baik, maka volume air danau akan tetap stabil.

Hal ini memungkinkan pembangunan pembangkit listrik tenaga air di sepanjang sungai yang mengalir dari danau tersebut menuju wilayah pesisir Manado.

Karena danau berada di wilayah pegunungan, aliran airnya memiliki potensi energi yang besar untuk menghasilkan listrik tanpa menimbulkan polusi, berbeda dengan pembangkit listrik berbahan bakar fosil.

Selain itu, penanaman pohon seho secara massal juga membantu:
• menyerap CO₂
• mengurangi gas beracun di atmosfer
• menjaga keseimbangan ekosistem

Sementara itu, ethanol sebagai bahan bakar menghasilkan emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil.

Sebuah Visi Jauh ke Depan
Dalam konteks pelestarian lingkungan ini pula, Om Ventje berpendapat bahwa gerakan penanaman seho dapat didukung oleh dana reboisasi pemerintah.

Bahkan, menurut beliau, biaya yang dibutuhkan relatif lebih kecil dibandingkan program reboisasi konvensional.

Pohon seho yang berumur 2–3 tahun saja sudah mampu berfungsi efektif sebagai tanaman konservasi tanah dan air.

Dengan demikian, gerakan penanaman seho memiliki manfaat yang sangat luas:
• menjaga kelestarian lingkungan
• menyediakan energi alternatif pengganti minyak bumi
• mengurangi pengangguran
• meningkatkan kesejahteraan rakyat

Pemikiran Om Ventje Sumual ini merupakan sumbangan gagasan yang memiliki visi jauh ke depan.

Kini, tantangannya adalah bagaimana gagasan tersebut dapat diwujudkan menjadi gerakan nyata. Mari torang sama-sama wujudkan. (***)