Jokowi Pemain Bridge? Cara Menghadapi Demo 411 Mirip Declarer Kelas Dunia!

63
Ist

Oleh: Bert Toar Polii

Seandainya saja Jokowi menekuni olahraga bridge, kemungkinan besar porsiku sebagai “tukang bridge” akan berkurang.

Sebab saya yakin ia bisa menjadi pemain yang sangat hebat. Untung saja ia memilih jalan hidup lain dan berhasil menjadi Presiden Republik Indonesia.

Namun setidaknya, Jokowi punya hubungan kecil dengan dunia bridge.

Ketika masih menjabat sebagai Wali Kota Solo, ia pernah mengizinkan rumah dinas Wakil Wali Kota Solo dipakai sebagai tempat penyelenggaraan turnamen bridge pada Porprov Jawa Tengah tahun 2009.

Silakan colek Robert Soeseno dan Dana Lubis yang mengetahui cerita ini.

Lalu mengapa saya berani mengatakan Jokowi punya bakat menjadi pemain bridge?

Karena cara ia menghadapi situasi sulit dalam politik sering mengingatkan saya pada cara seorang pemain bridge memecahkan masalah di meja permainan.

Ambil contoh ketika ia menghadapi demo besar 4 November 2016 (411).

Langkah pertama yang ia lakukan adalah berkomunikasi dengan berbagai pihak: TNI, Polri, para ulama, tokoh partai, serta berbagai elemen masyarakat.

Bagi pemain bridge, ini sangat mirip dengan proses bidding.

Dalam bidding, kita tidak asal bicara.
Setiap bid adalah kode informasi kepada pasangan.

Melalui komunikasi itu, pemain mencoba menggambarkan kekuatan kartu yang dimiliki sebelum menentukan kontrak yang tepat.

Namun kadang informasi masih belum cukup.
Dalam bridge ada teknik yang disebut psychic bid.

Sebuah bid yang sedikit “menggoda” lawan untuk melihat bagaimana reaksinya.

Jika lawan terpancing dan melakukan penalty double, justru informasi tambahan terbuka.
Persis seperti strategi politik.

Kadang sebuah langkah terlihat sederhana, tetapi sebenarnya bertujuan membaca langkah lawan.

Setelah semua informasi terkumpul, kontrak akhir pun diputuskan.

Dalam analogi ini, kontraknya adalah:
7NT – NKRI Harga Mati.

Namun bahkan setelah kontrak ditetapkan, permainan belum selesai.

Declarer masih harus memainkan kartu dengan cermat karena lawan bisa saja masih memiliki pertahanan kuat.

Di sinilah teknik klasik bridge sering muncul: squeeze.

Dalam squeeze, lawan dipaksa menjaga dua ancaman sekaligus.

Jika ia menahan spade, ia harus membuang heart.

Jika ia menjaga club, ia juga harus melepas kartu lain. Akhirnya pertahanan lawan runtuh sendiri.

Dan dalam cerita ini, heart—atau hati—Jokowi yang menang, karena ia berhasil mencuri hati rakyatnya.

Mungkin Jokowi memang tidak pernah duduk di meja bridge. Namun cara berpikir strategisnya kadang terasa seperti seorang declarer yang sedang memainkan kontrak besar.

Bedanya hanya satu. Di meja bridge hanya ada empat pemain. Di meja politik Indonesia, pemainnya bisa lebih dari dua ratus juta. (***)