KMPA TANSA Sulut Menjaga Ancaman Ekosistem Laut

295
Pembersihan Kawasan Hutan Mangrove Batu Hitam. (ist)

MANADO – Kelompok Muda Pecinta Alam (KMPA) Tindakan Antusias Simpati Alam (Tansa) Sulawesi Utara melakukan pembersihan sampah di Kawasan Hutan Mangrove Batu Hitam, Kecamatan Bunaken Darat, Kota Manado, Sabtu (8/03/2025).

Pembersihan ini bagian dari agenda Konservasi yaitu menjaga, merawat dan melestarikan lingkungan.

Menuju HUT Ke 23 Tahun KMPA Tansa, berbagai program akan dilakukan secara berkelanjutan ke depan.

“Kami membersihkan sampah yang melingkari dahan hingga daun dari Mangrove itu sendiri,” ungkap Aldi, penanggungjawab kegiatan.

Jika proses pembersihan ini tidak dilakukan tentu menjadi ancaman bagi pertumbuhan dari Hutan Mangrove yang ada.

Sampah dapat mengancam ekosistem lainnya seperti karang ketika terbawah lagi ke laut.

“Juga mengancam kehidupan manusia, ketika sampahnya menjadi microplastik dan masuk ke tubuh ikan, yang neto-neto mengkonsumsinya akan terancam mendapatkan penyakit serius,” jelasnya.

Kenapa Mangrove harus dijaga dan dilestarikan. Pasalnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami ancaman terhadap perubahan iklim.

Banjir, kekeringan panjang, tanah longsor. Bahkan kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan perubahan iklim di dunia.

Hal ini pernah disampaikan oleh Dirjen SDA, Iwan Nursyirman, pada acara Konferensi Perubahan Iklim (UN Cliamte Change Conference 2007) di Nusa Dua, Bali.

Bahkan juga Perubahan iklim semakin tidak menentu di Indonesia. Ada empat masalah krisis iklim yang bisa melanda negeri ini, yakni polusi udara, krisis air, pemanasan global, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Hal ini terungkap dalam Pertemuan Nasional Result Based Payment (RBP) REDD+ Tahun 2024 di JW Marriott Hotel Jakarta, 21 Februari 2024.

Dalam pertemuan itu hadir Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani. Dalam pidatonya, Sri Mulyadi menyinggung soal krisis iklim yang bisa melanda Indonesia.

Menurut Aldi, hutan Mangrove itu perlu dijaga dan dilestarikan mengingat banyak manfaat yang diberikan kepada kehidupan manusia, yang sampai saat ini tidak banyak diketahui olah masyarakat awam.

“Hutan Mangrove  memiliki manfaat untuk menjaga perubahan iklim dengan menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan menyimpannya dalam biomassa dan tanah. Proses ini sering dikenal dengan penyerapan karbon,” ucap mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Polimdo ini.

Di luar daripada itu, Mangrove juga berperan penting dalam mengurangi dampak perubahan iklim dengan melindungi kawasan pesisir dari bencana alam, seperti badai, gelombang pasang dan kenaikan permukaan laut.

Sedangkan akar Mangrove yang kuat mampu menahan gelombang dan mengurangi dampak kerusakan akibat bencana alam tersebut.

Sampah yang ditemukan di Hutan Mangrove Batu Hitam.

Calang (calon anggota) KMPA Tansa ini menyebut beberapa jenis sampah telah ditemukan saat pembersihan, seperti plastik kresek, jaring senar bekas digunakan nelayan, karung, bahkan kulit dari berbagai snack.

Jika persoalan sampah ini tidak dibersihkan maka akan membuat Mangrove itu secara cepat menuju kematiannya.

Kemudian perlahan-lahan akan mengancam ekosistem lain secara luas, seperti dapat merusak keseimbangan nutrien di laut, membahayakan keselamatan hewan di laut.

“Merusak terumbu karang, mengurangi populasi fitoplankton, mengancam eksistensi burung laut, berbahaya bagi kesehatan manusia, dan berdampak buruk pada perekonomian,” terangnya.

Selama pembersihan, Aldi menyebut, mereka bisa mengangkat sampah dengan ukuran 2 trasbag besar.

Semua sampah yang terangkat itu tidak bisa didaur ulang, jadi kami langsung bawah ke tempat pembuangan akhir (TPA) Sumompo.

Untuk itu, bagi setiap masyarakat mari jaga lingkungan kita dengan cara sederhana yaitu membuang sampah pada tempatnya, atau memilah sampah dari rumah.

Sekarang ini juga kan sampah banyak manfaatnya, baik itu sampah plastik seperti botol bisa dijual kembali, dos bekas, bahkan sisa makanan bisa dijual kepada pengusaha hewan ternak yang sedianya membeli.

“Dan itu sering dilakukan oleh pengepul yang ada di TPA Sumompo Manado,” tambahnya.

Sekretaris KMPA Tansa Sulut, Kristi Katiandagho, di tempat yang sama menambahkan bahwa kegiatan ini sebenarnya akan dilaksanakan pada bulan kemarin dalam rangka hari sampah, namun pelaksanaannya tertunda dan bisa dilaksanakan pada kemarin hari.

“Intinya, kegiatan penanaman dan pembersihan mangrove ini bukan hanya sekali saja dilakukan oleh KMPA Tansa, sudah sering yah, tinggal tindak lanjutnya adalah melakukan monitoring dan pembersihan berkelanjutan,” pungkasnya. (don)